Industri Otomotif

India, Tiongkok & Transformasi Industri Otomotif

Ekawan Raharja    •    Senin, 12 Jun 2017 13:13 WIB
mobil listrikautonomous
India, Tiongkok & Transformasi Industri Otomotif
Baliho salah satu produsen otomotif dalam Shanghai International Automobile Industry Exhibition pada April 2017. AFP Photo/Johannes Eisele/file

Metrotvnews.com: Manuver terbaru Zhejiang Geely Holding Grup memborong 49.9 persen saham Proton Holdings dari DRB-Hicom, tidak akan berdampak apa-apa dalam waktu dekat. Pasar otomotif Asia tetap dikuasai Toyota, produsen asal Korea dan Tiongkok belum mampu merebutnya.

Namun jelas akuisisi pada 1 Juni 2017 itu cermin keseriusan Tiongkok memperluas 'daerah kekuasaannya' di luar negeri dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ini merupakan langkah taktis memastikan ada pemasukan ketika pasar dalam negeri yang menjadi andalannya selama ini mencapai titik jenuh pada 2020 mendatang.

"Membeli brand dan teknologinya merupakan cara tercepat. Sama seperti ketika Geely membeli Volvo pada 2010 lalu. Ingat, membeli Proton mendapat 'bonus' Lotus," kata analis industri otomotif, Takaki Nakanishi, sebagaimana dikutip dari Nikkei Asian Review.

Tidak cuma Geely, produsen otomotif besar lain yang berbasis di Tiongkok juga sedang agresif berekspansi ke luar negeri. Seperti grup Great Wall Motor dan BYD yang menguasai pasar mobil listrik domestik. Berkat dukungan kebijakan strategis dari pemerintah -yang didorong pendekatan kalangan industri lokal, dari yang semula memanfaatkan besarnya jumlah penduduknya kini industri otomotif Tiongkok sedang melesat menjadi pemain penting dunia.



Pola serupa berlangsung di India yang industri otomotifnya agresif memborong 'saudara tuanya' di Inggris. Pasar dalam negeri yang semula didominasi kendaraan diesel, kini sedang berancang-ancang menentukan masa depan baru. Apakah lebih mendorong industri kendaraan bermesin listrik atau hybrid, semuanya tergantung arah kebijakan strategis pemerintah India.

Menurut analisa Nakanishi, bila UU-nya kelak condong kepada kendaraan bermesin listrik maka yang diuntungkan bagi konsorsium Volkswagen. Setelah mengakhiri koalisinya dengan Maruti Suzuki India, raksasa asal Jerman itu menjalin kemitraan dengan Tata Motors yang sedang berdarah-darah akibat gagalnya proyek mobil murah Nano. Tentu saja VW harus membantu keuangan Tata, tapi itu sekaligus membuka akses ke Jaguar Land Rover yang merupakan anak perusahaan otomotif India tersebut.



Tapi pasar India terlalu legit untuk dilepaskan oleh raksasa dari Jepang yang merupakan pemimpin dalam teknologi mesin hybrid. Maret lalu CEO Toyota, Akio Toyoda dan Suzuki Chairman, Osamu Suzuki menemui PM Narendra Nodi untuk membahas perkembangan teknologi otomotif dan investasi mereka di India.

"Bagi negara berkembang akan lebih efisien membangun industri kendaraan listrik. Teknologinya yang relatif murah dan sederhana serta pasar yang terus berkembang, lebih membuka peluang untuk ikut berkompetisi dibandingkan bila berjibaku dengan mesin bakar hybird yang rumit," ulas Nakanishi.

Sementara teknologi otomotif sedang mengarah kepada pengemudian otomon dan terkoneksi. Para raksasa otomotif - dan teknologi informasi- dari Jepang, Eropa, Tiongkok, Korea dan Amerika Serikat melancarkan jurus masing-masing agar bisa menjadi yang tedepan dalam riset kendaraan otonom pertama.

Baca juga: Balapan Hadirkan Mobil Otonom

Menarik mencermati strategi General Motors (GM) yang dua tahun terakhir menutup unit usahanya di Indonesia, India dan Afrika Selatan. Uniknya di India mereka tidak menutup pabriknya meski tidak lagi ada lagi aktifitas bisnis di sana. Pabrik di India diarahkan sebagai basis produksi mobil listrik yang dipasarkan di Tiongkok dan AS.

Tiongkok dan India sudah sedemikian serius mempersiapkan diri ikut bersaing ke gelangang persaingan baru otomotif. Dua negara tetangga di Asia ini sedang mengejar mimpinya menjadi pemain penting global di masa depan. Bagaimana dengan Indonesia?

 


(LHE)