Test Drive

Perjalanan Mudik jadi Anti Mainstream Pakai Mitsubishi Triton

Ainto Harry Budiawan    •    Sabtu, 23 Jun 2018 09:50 WIB
mitsubishi
Perjalanan Mudik jadi Anti Mainstream Pakai Mitsubishi Triton
Selain tangguh, daya tampung barang Mitsubishi Triton berguna saat mudik. Medcom/ A. Harry Budiawan

Jakarta: Melakukan perjalanan mudik biasanya menggunakan mobil penumpang, semacam MPV, SUV, hatchback bahkan city car. Tapi apa rasanya jika melakukan perjalanan jauh menuju kampung halaman dengan sebuah double cabin?

Tentu ini akan jadi perjalanan yang berbeda dan anti mainstream. Kami menggunakan Mitsubishi Triton berjenis double cabin, dengan penggerak 4x4 dan sudah mendapatkan modifikasi offroad.

Desain
Ini adalah Triton generasi baru, yang merupakan rakitan 2015. Desainnya sudah lebih modern, dan maskulin. Desain lampu depan tak lagi berkesan Pajero Sport, begitu pula lampu belakang yang punya bentuk tak sekedar kotak seperti kompetitornya.

Tambahan aksesoris offroad seperti bullbar depan-belakang, ban M/T, winch hingga tutup bak belakang jadi pembeda. Dengan tampilan seperti ini, sebanyak mata memandang kagum. Ya, jarang sekali sebuah mobil double cabin dipakai untuk perjalanan mudik, yang banyak melahap jalanan halus.

Kami berkendara bersama empat orang dewasa dan seorang balita. Pengaturan jok baris depan cukup fleksibel, jok dengan bahan fabric terasa pas. Tapi jok baris kedua agak tegak, sedikit kurang nyaman memang, tapi seluruh double cabin memang seperti ini.

Triton yang kami gunakan tipe Exceed dengan transmisi manual. Mobil ini sudah mengusung audio double din dan pengaturan AC digital. Cukup modern untuk sebuah mobil pekerja.

Dimensi
Mobil ini punya ukuran 5.255mm x 1.815mm x 1.795mm (PxLxT), sumbu roda 3.000mm, berat kosong 1.900 kg. Jelas mobil ini punya dimensi besar, radius putarnya pun begitu. Berputar balik terkadang tak bisa sekali tekuk.

Begitu pula saat melewati jalanan yang sempit, mencari area parkir, termasuk antri bayar tol di Pekalongan, yang hanya diberi batas cone tak terlalu lebar. Harus hati-hati agar tak menyenggol pembatas. Gardu tol ini sendiri masih sementara, dan jadi salah satu penyebab kemacetan.

Akomodasi
Meski double cabin, ditiap pintu punya tempat penyimpanan botol air mineral. Pintu belakang masing-masing hanya bisa menampung ssatu botol saja, untuk pintu depan bisa hingga dua botol dan masih ada celah untuk menyimpan snack.

Terdapat pula glove box pada sisi dashboard sebelah kiri. Dan tempat penyimpanan barang paling besar ada di belakang pastinya. Meski sudah diberi penutup, bak belakang masih bisa menampung 10 tas besar, kardus oleh-oleh dan perbekalan selama perjalanan.

Barang yang dibawa tak seluruhnya milik penumpang mobil, tapi juga titipan dari sanak keluarga yang menggunakan mobil MPV dan pakai transportasi umum. Kami merasa, semakin berat beban, mobil semakin nyaman dikendarai.

Impresi Berkendara
Dengan penggunaan ban M/T, ketinggian mobil bertambah. Adanya penutup bak belakang, kami merasa area pandang lewat spion tengah terlalu sempit. Sebuah mobil LCGC tak akan nampak jika tepat ada di belakang mobil ini.

Sesuai kodratnya, mobil double cabin didesain untuk melahap medan tak rata dan membawa beban. Saat kondisi kosong, mobil ini terasa keras suspensinya, khususnya bagian belakang. Beda dengan suspensi depan yang masih lebih lembut.

Penggunaan ban M/T sedikit banyak membuat road noise yang cukup terdengar hingga dalam kabin, termasuk suara mesin dieselnya. Tapi suara yang masuk masih nyaman dan menurut kami kabinnya terbilang kedap.

Dalam kondisi kosong, melaju hingga 120 km/jam mobil akan terasa melayang. Terlebih saat melibas sambungan jalan atau permukaan aspal yang berlubang/bergelombang. Guncangan yang diterima ban, ikut mempengaruhi pergerakan setir.

Maka berbeda cerita saat diisi lima orang penumpang, dengan segala barang bawaannya. Mobil lebih tenang, ayunan suspensi jadi lebih lembut dan gejala limbung agak berkurang.

Kondisi jalan tol fungsional yang banyak sambungan, permukaan jalan tak rata bukan masalah. Tak perlu menginjak rem dalam-dalam, karena cukup angka pedal gas saja. Kami merasa inilah enaknya pakai double cabin dalam kondisi seperti ini.

Performa
Mengusung jantung mekanis 4D56 berkapasitas 2.500cc, empat silinder, DOHC, 16 katup. Mesin ini dibekali teknologi direct injection denagn turbocharger, makanya performa mesin terasa enteng melibas berbagai kondisi jalan.

Output mesin yang dimiliki mencapai 175 daya kuda @4.000 rpm. Torsi yang dihasilkan sangat besar khas mesin diesel, angkanya sampai 400,1 Nm @3.500 rpm. Dalam kondisi berkendara, tarikan mesin mulai terasa diangka 1.500-1.800 rpm.

Dengan total jarak tempuh pulang-pergi 1.360,8 km, konsumsi bahan bakar yang dicapai bisa 11,2 km/liter. Bahan bakar kami menggunakan Pertamina Dex. Salah satu yang tak nyaman adalah koplingnya yang terbilang berat, lumayan membuat kaki kiri pegal.

Kesimpulan
Untuk mendapatkan sensasi mudik yang berbeda, double cabin bisa jadi pilihan, apalagi seabrek bawaan mudah saja dibawa. Double cabin juga tak hanya untuk keperluan tambang atau perkebunan saja, tapi kini juga untuk gaya hidup.

Selain varian yang sudah ada, Mitsubishi pun melengkapinya Triton Athlete. Varian ini lebih difokuskan untuk gaya hidup, sekaligus menjadi varian tertinggi Triton, dengan banderol Rp431 juta hingga Rp445 juta.


(UDA)