Mobil Listrik

Sepertiga Penduduk ASEAN Ingin Mobil Listrik

Ahmad Garuda    •    Selasa, 06 Feb 2018 12:46 WIB
mobil listrik
Sepertiga Penduduk ASEAN Ingin Mobil Listrik
Sepertiga penduduk ASEAN sangat terpacu memiliki mobil listrik karena beberapa alasan.

Singapura: Ragam studi tentang kendaraan listrik (motor dan mobik) mulai digalakkan untuk melihat sejauh mana potensi perkembangan pasar terhadap kendaraan ramah lingkungan. Uniknya di kawasan ASEAN tercatat sebesar 37 persen atau sepertiga dari responden yang ada, menginginkan mobil listrik.

Bahkan, angka yang cukup besar juga terjadi di Indonesia, setelah Filipina dan Thailand yaitu sebesar 41 persen. Atau nyaris setengah dari 311 responden menginginkan mobil listrik di pasar nasional.

Hal ini diungkapkan langsung Senior Vice President, Mobility, Frost & Sullivan, Vivek Vaidya di Nissan Futures yang berlangsung mulai pagi ini Selasa (6/2/2018) di Marina Bay Sands, Singapura. Ia menerangkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi mereka untuk membeli mobil ramah lingkungan seperti mobil listrik itu cukup banyak.

"Tapi yang paling besar adalah safety standard atau standar keamanan adalah yang paling tinggi sebagai faktor utama membeli mobil listrik. Mengingat mobil ini sebagian besar sudah mengaplikasikan teknologi pintar seperti otonom atau keamanan tertinggi. Faktor kedua adalah kenyamanan unuk melakukan pengisian baterai, terutama saat berada di kantor," ujar Vivek.

Faktor Keamanan dan Pengisian Daya yang Nyaman
Di penjuru Asia Tenggara, 2 dari 3 konsumen menekankan faktor keamanan sebagai motivasi terpenting dalam membeli mobil listrik. Faktor keduanya adalah kemudahan dalam melakukan pengisian ulang. Biaya menjadi faktor yang tidak terlalu signifikan – bahkan konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk memiliki kendaraan listrik, dibandingkan mobil konvensional yang setara.

Menyinggung level pentingnya tiap item tersebut memang cukup beragam. Bahkan juga ditentukan oleh karakter pengguna kendaraan di sebuah negara. Misalnya di Singapura yang cenderung mempertimbangkan faktor insentif dari pemerintah ketimbang fleksibelnya melakukan pengisian baterai dan lain sebagainya.

Sayangnya, untuk pasar nasional, memang masih banyak tantangan seperti insentif dari pemerintah yang belum juga disahkan. Mengingat harga yang cukup tinggi dibandingkan mobil bermesin konvensional, membuat elektrifikasi otomotif sulit tercapai.

Hasil riset lembaga riset independen itu juga membuktikan bahwa harga yang lebih murah akan mendorong lebih banyak orang untuk mempertimbangkan kendaraan listrik. Tiga dari empat responden menyatakan siap bermigrasi ke mobil listrik jika pajaknya ditiadakan.

Insentif lain yang akan mendorong keputusan konsumen adalah pemasangan fasilitas isi ulang di apartemen (70%), jalur prioritas untuk kendaraan listrik (56%), dan parkir gratis (53%).


(UDA)