Industri Otomotif

Indonesia Bidik Australia untuk Pasar Ekspor Mobil

Ekawan Raharja    •    Jumat, 02 Jun 2017 14:50 WIB
industri otomotif
Indonesia Bidik Australia untuk Pasar Ekspor Mobil
GAIKINDO berencana memperluas pasar ekspor mereka dengan mengirimkan mobil ke Asutralia,.Toyota

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah terus mengatakan untuk dapat meningkatkan ekspor di industri otomotif. Namun pasar Asia Tenggara dan Asia sudah cukup padat. Namun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melihat ada celah besar di pasar otomotif Australia, sehingga sangat wajar jika mereka membidik benua ini sebagai pasar ekspor.

Tentu saja negeri asal Kanguru tersebut sangat menjanjikan. Lantaran tidak ada satu pun pabrik otomotif yang buka. Terakhir Holden dan Ford pun harus tutup di benua terkecil tersebut.

"Kebutuhan pasar otomotif di sana sekitar 1,2 juta unit per tahun. Padahal kita negara paling dekat dengan Australia, namun tidak ada satu pun pabrikan Indonesia yang ekspor mobil ke sana," ucap Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi, di Century Park Hotel.

Gaikindo sudah mempersiapkan proposal untuk menjelaskan probabilitas Australia sebagai pasar ekspor. Bahkan mereka juga mengklaim sudah siap untuk presentasi di hadapan pemerintah.

"Saat ini pemerintah belum ada respon. Tapi laporannya sudah kita serahkan dan siap untuk presentasi ke hadapan mereka," tambah mantan bos Isuzu Indonesia itu.

Salah satu poin untuk bisa melakukan penetrasi ke Australia dengan cara menggenjot produksi Sedan. Sekarang produksi dan penjualan sedan di Indonesia melempem karena Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) mencapai 30 persen. Padahal untuk mobil model non sedan, pajaknya hanya 10 persen.

"Jadi gini, ada mobil PPnBM-nya 10 persen, tapi kalau ketambahan buntutnya menjadi 30 persen. Mereka pikir sedan ini mobil mewah dan pemikiran itu sudah ada sejak jaman dulu," jelas Nangoi.

Bahkan Gaikindo sampai menggandeng lembaga independen untuk menyusun studi mengenai prospek pendapatan pemerintah jika pajak sedan dikurangi. Tentu saja semua ini dilakukan agar dapat memenuhi imbauan dari pemerintah untuk dapat meningkatkan nilai ekspor.

"Kalau dibandingkan dengan Thailand, market di dalam negeri mereka kalah sama kita. Namun nilai ekspornya sekarang mencapai dua kali lipat dari kita," tegas Nangoi.


(UDA)