Presiden: Pasar Nasional Jangan Dikuasai Mobil Impor

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 02 Aug 2018 20:38 WIB
perindustrian
Presiden: Pasar Nasional Jangan Dikuasai Mobil Impor
Usai membuka resmi GIIAS 2018, Presiden Joko Widodo berkunjung ke bebarapa booth peserta pameran produk otomotif ini. medcom.id/Ainto Harry

Tangerang: Presiden Joko Widodo mengimbau pada para pelaku usaha di sektor industri otomotif agar tidak membiarkan pasar Indonesia yang memiliki potensi sangat besar dikuasai oleh mobil-mobil impor.

Jokowi berpesan agar pasar dalam negeri harus dikuasai oleh mobil-mobil produksi anak bangsa. Jokowi juga meminta agar pengusaha di bidang tersebut meningkatkan orientasi ekspor.

"Pasar dalam negeri kita kuasai, pasar ekspornya harus ditingkatkan. Ini yang kedua. Jadi industri-industri yang berorientasi ekspor nanti akan kita siapkan insentif-insentif agar bisa terdorong terus meningkat,” jawab Presiden usai mengikuti acara Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) ke-26 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis, 2 Agustus 2018.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyampaikan pemerintah akan terus untuk membantu dan mendukung industri otomotif. "Pemerintah juga sedang menyiapkan berbagai insentif yang nanti bisa diberikan kepada industri otomotif, seperti tax holiday dan tax allowance, serta yang sedang dalam kajian adalah super deduction," tambah dia.



Di sisi lain dia berpesan negara, pemerintah, dan industri juga harus miliki visi yang sama ke depannya untuk menggunakan dan mengembangkan mobil-mobil ramah lingkungan salah satunya dengan mengimplementasikan biodisel B20. Selain dinilai ramah lingkungan, penggunaan biodisel juga akan bisa menekan impor dan gejolak kurs.

"Saya minta bantuan semua pihak untuk mendukung penuh ini supaya subtitusi biodiesel produksi lokal bisa kita jalankan semaksimal mungkin. Saat ini kita tahu semuanya kita, negara, butuh dolar, kita perlu dolar," sambung Presiden.

Dengan asumsi harga minyak mentah USD70 per barel dan dengan asumsi meningkatkan penyerapan biodiesel, dia mengaku telah menghitung penggunaan B20 akan mengangkat harga minyak kelapa sawit (CPO) naik menjadi USD100 per ton. Dirinya meyakini bila kebijakan itu diimplementasikan negara akan menghemat devisa kurang lebih sekitar USD6 miliar.

"Dan proses ini akan saya ikuti terus, karena biasanya kita ini kalau sudah rapat, ‘iya, iya, iya, iya,’ tapi keluar dari rapat lupa semuanya. Sekarang saya ikuti terus. Dengan angka yang hampir USD6 miliar lebih, akan menyelesaikan defisit neraca transaksi berjalan kita," tegas dia.


(SAW)