Mobil Listrik

Tiongkok dan India Mulai Fokus Main Mobil Listrik

Ahmad Garuda    •    Kamis, 18 May 2017 19:44 WIB
mobil listrik
Tiongkok dan India Mulai Fokus Main Mobil Listrik
Tiongkok dan India sudah mulai konsen untuk menggunakan mobil listrik. Greencarreports

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah negara-negara maju dan sebagian negara-negara berkembang, sudah punya perencanaan besar untuk sektor otomotif mereka. Salah satu yang terlihat cukup masif adalah mobil-mobil dengan tenaga penggerak motor listrik. Ya, bahkan Tiongkok dan India pun sudah mulai fokus untuk hal ini.

Jika melirik data penjualan mobil yang dilansir badan otomotif di kedua negara tersebut, mobil dengan penggerak tenaga listrik, permintaannya cukup besar dalam kurun waktu satu dekade ini. Ini juga tak terlepas dari kemampuan mereka membeli bahan bakar minyak hingga komponen pelumas.

Dari pemetaan data di Tiongkok, kepemilikan mobil bertenaga listrik/bbm alternatif dengan mesin konvensional dinyatakan bakal berada di angka 15 persen pada 2025 dengan jumlah 35 juta mobil. Sementara India bakal lebih radikal lagi, yaitu bakal membuat semua mobil atau motor yang beredar di sana, wajib menggunakan tenaga penggerak listrik di 2032.

Dilansir dari Reuters, pemerintah India merencanakan perpindahan yang cukup signifikan ke mobil dengan tenaga penggerak listrik. "Nantinya mobil listrik bukan lagi sekadar mobil dengan varian pelengkap saja. Tapi lebih kepada kebutuhan tiap negara untuk memiliinya," klaim Vice President for Strategy & Product Planning Daimler, Wilco Stark.

Saat ini posisi dan populasi mobil listrik di dunia, masih sebesar 2 persen saja. Tapi di 2025, persentasenya bakal mencapai 15-20 persen. Itu belum termasuk 10 persen mobil dengan tenaga penggerak hybrid. Artinya mobil-mobil ramah lingkunan nantinya bakal mendominasi industri otomotif dunia.

Lalu bagaimana dengan kesiapan Indonesia? Mengingat di negara ini industri otomotifnya juga cenderung cukup besar. Tentunya belum bisa dibilang bisa mengikuti aturan yang ada. Lantaran untuk sistem Euro saja, kita ketinggalan cukup jauh. Bahkan beberapa pakar dalam industri otomotif berpendapat, jika melakukan perubahan terlampau ekstrim, maka ini sama saja mengebiri industri otomotif di negara sendiri.

Benarkah? atau sekadar suara ketakutan karena bisnis perminyakan masih hidup di negara ini? kita tentu akan melihat buktinya dalam waktu beberapa tahun kedepan.


(UDA)