Bantah Kartel Skutik, Ketua AISI: Malah Honda & Yamaha Bersaing

Ekawan Raharja    •    Rabu, 07 Sep 2016 10:10 WIB
kartel harga motor
Bantah Kartel Skutik, Ketua AISI: Malah Honda & Yamaha Bersaing
AISI meyakini bahwa Honda dan Yamaha tidak terlibat kartel seperti yang dituduhkan. MTVN

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Gunadi Sindhuwinata, jadi saksi ahli dalam sidang dugaan kartel skutik Yamaha-Honda. Wadah para pelaku industri sepeda motor tersebut meyakini tidak ada praktek kartel.

Ketua Umum AISI, Gunadi Sindhuwinata, dalam kesaksiannya, Selasa (6/9/2016), meyakini antara Honda dan Yamaha tidak ada kesepakatan mengenai harga skuter matik 110-125cc seperti yang didakwakan. Faktanya di lapangan bahkan Honda dan Yamaha saling bersaing ketat berebut pasar di segmen tersebut. 

"Persaingan ini sukses jika salah satu agen pemegang merek (APM) berhasil dan kemudian kompetitornya menghadirkan pesaingnya," ujar Gunadi di Kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Jakarta Pusat.

Tim investigatior KPPU menduga Yamaha dan Honda melanggar pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999, tentang larangan praktik monopoli dan persaingan tidak sehat. Dugaan kartel ini terkait pengaturan harga jualan skutik 110-125cc, lebih tepatnya untuk model Honda Beat dan Yamaha Mio.

"Soal biaya produksi tidak bisa saya katakan berapa, karena setiap APM punya manajemen dan perhitungan yang berbeda," lanjut Gunadi.

Namun Gunadi menilai bahwa Beat dan Mio merupakan produk yang memiliki segmentasi dan kecenderungan konsumen berbeda. Perbedaan harga dan desain membuat konsumen memiliki pilihan yang variatif.

"Berbicara perbedaan, kesukaan konsumen berbeda. Ada 110 cc atau 125 cc, desainnya berbeda, konsumen yang tinggal memilih," ujar pria berambut putih tersebut.

"Jika ada APM keluarkan 100 cc, maka pesaing hadirkan 110 cc untuk persaingan. Perbedaan pasti ada misalkan lagi perbedaan harga, konsumen tinggal memilih. Ini pertanda perbedaan ini ada muatan untuk mengungguli," beber Gunadi.


Jika memang Honda dan Yamaha melakukan kartel maka market share mereka akan sama, sehingga mereka bisa berbagi keuntungan. "Saat ini Honda sebagai leader dengan market share lebih dari 70 persen, jauh di atas Yamaha."

Orang nomor satu di AISI tersebut juga mengakui bahwa mereka belum memiliki pernyataan tertulis kesepakatan persaingan usaha yang sehat. Namun mengacu kepada Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999, dia yakin anggotanya tunduk dan mengikuti aturan tersebut.

"Saat digulirkan UU persaingan usaha, kami sampaikan kepada anggota dan mereka secara sadar ikut. Tidak ada secara tertulis kesepakatan persaingan usaha yang sehat antar anggota. Kami yakin semua APM tunduk kepada UU tersebut," jelas Gunadi.

"Kita dengan adanya ini (kasus dugaan kartel), mudah-mudahan KPPU dapat melindungi kita semua," harap Gunadi.
(UDA)