Industri Otomotif

Krakatau Steel Mulai Investasi Baja untuk Otomotif

Ekawan Raharja    •    Sabtu, 16 Dec 2017 07:36 WIB
industri otomotif
Krakatau Steel Mulai Investasi Baja untuk Otomotif
Pabrik Mitsubishi di Indonesia. Mitsubishi

Jakarta: Krakatau Steel kini memulai investasi struktur manufakturnya untuk meningkatkan produksi baja di segmen otomotif. Investasi ini menjadi solusi industri otomotif nasional yang hingga saat ini masih mengimpor bahan baku baja dari berbagai negara.

Untuk pengembangan ini, Krakatau Steel menggandeng Sango Corporation dari Jepang. Tercatat nilai investasi dari proyek kerja sama ini sebesar USD95 juta untuk menghasilkan produk baja khusus berupa wire rod dan wire yang akan diaplikasikan guna memenuhi kebutuhan bahan baku di sektor otomotif.

Pabrik ini nantinya bakal memiliki kapasitas produksi mencapai 40 ribu ton per tahun dan menyerap tenaga kerja 150 orang. Bahkan diklaim investasi ini akan menghemat devisa sebesar USD24 juta per tahun karena akan menghentikan impor.

“Ini merupakan salah satu momentum sejarah lagi mengenai pendalaman struktur industri nasional, di mana saat ini realisasi investasi akan menghasilkan produk wire rod untuk pengembangan industri otomotif di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, melalui keterangan resminya.

Melalui pendalaman struktur industri ini, pasokan bahan baku untuk sektor otomotif dan komponen di Indonesia akan semakin baik. Selain itu, kualitas kontrol dan hasilnya lebih terjamin dan terjaga karena dilakukan di dalam negeri.

Investasi yang dilakukan oleh Krakatau Steel ini juga menjadi salah satu dari tiga fokus pemerintah. Ketiganya adalah industri besi baja, petrokimia, dan kimia dasar. Ketiga industri tersebut dinilai sebagai driving sector bagi manufaktur lainnya.

Industri baja, sebagai salah satu komponen utama dari industri logam dasar, diperkirakan masih akan terus tumbuh dengan rata-rata enam persen per tahun sampai tahun 2025. Hal ini dipicu oleh tingginya permintaan bahan baku untuk sektor konstruksi yang tumbuh 8,5 persen, diikuti sektor otomotif yang tumbuh 9,5 persen.


(UDA)