Industri Otomotif

Sebelum Locat ke Mobil Listrik, Mobil Hybrid Harus Dikembangkan

Fetry Wuryasti    •    Rabu, 09 Aug 2017 20:45 WIB
mobil listrik
Sebelum Locat ke Mobil Listrik, Mobil Hybrid Harus Dikembangkan
Sejak April lalu kepolisian Los Angeles, AS, resmi menggunakan mobil bermesin hybrid-electric untuk mengejar pelaku kejahatan. David McNew/Getty Images/AFP

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian ESDM mengaku siap mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Sambil menunggu pengadaan semua infrastruktur pendukung siap di lapangan, mobil berteknologi mesin hybrid yang sudah banyak di pasaran bisa dijadikan transisi.

“Perlu ada tahapan peralihan ke mobil hybrid sebelum sepenuhnya berenergi listrik," kata Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk (ASII), Prijono Sugiarto di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Menurutnya ada jenjang peralihan dari mobil dengan mesin bakar konvensional menuju teknologi yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi. Pertama adalah mesin hybrid yang merupakan kombinasi antara mesin bakar dengan motor listrik. Setelah itu ke teknologi mobil yang sepenuhnya sumber tenaganya adalah listrik.

"Sebentar lagi akan ada low carbon emition. Peraturannya diharapkan di situ hybrida akan dibahas,” papar Prijono.

Sayangnya mobil bermesin hybrid belum populer di Indonesia karena dikenakan pajak barang mewah yang tinggi sehingga harga jualnya juga tinggi. Agar program  emisi karbon rendah berhasil, harus diberikan insentif yang cukup untuk mobil mesin hybrid sehingga harganya bisa ditekan.

Pemberian insentif untuk mobil berteknologi ramah lingkungan sudah diterapkan di banyak negara dan hasilnya pun positif. Selain negara-negara di Eropa, Tiongkok adalah contoh sukses penerapan kebijakan insentif yang sekaligus mendorong industri otomotif dan teknologi lokal bersaing di tingkat global.

Prijono berharap ada pembahasan lebih lanjut antara industri, Gaikindo dan asosiasi permobilan bersama Kementerian Perindustrian mengenai aturan dan bentuk insentif yang memungkinkan. Sehingga aturan apa pun juga bisa menunjang industri.

“Arah dari Kementerian Perindustrian yang sedang merancang aturan low carbon emition sudah benar. Kalau memberi insentif yang cukup, kendaraan mesin hybrid bisa menjadi andalan baru bukan sekadar kendaraan berbahan bakar diesel dan bensin,” paparnya.

 


(LHE)