Test Drive

MINI JCW Countryman, Tenaga Buas ala Mobil Balap

Ahmad Garuda    •    Selasa, 19 Dec 2017 07:27 WIB
test drivemini
MINI JCW Countryman, Tenaga Buas ala Mobil Balap
MINI John Cooper Works Countryman, tawarkan sensasi berkendara mobil balap. medcom.id/Ahmad garuda

Bandung: Brand John Cooper Works yang kini terintegrasi dengan MINI, benar-benar memberikan pembeda di jajaran produk MINI versi reguler. Kali ini medcom.id merasakan langsung performa buas ala mobil balap MINI John Cooper Works (JCW) Countryman di Sirkuit Bridgestone, Karawang-Jawa Barat.

Klaim MINI tentang mobil mereka yang punya sensasi gokart yang kental memang sangat terasa. Medcom.id pun berhasil merasakan perbedaan yang cukup terasa di antara tiga varian yang mereka tawarkan.

"Kami memberikan kesempatan untuk menjajal langsung performa yang kami maksud di lintasan khusus yaitu Sirkuit Bridgestone Proving ground di Karawang, Jawa Barat. Tentunya untuk memberikan pembuktian bahwa MINI tak kompromi dengan yang namanya mobil high performance yang sekaligus juga menawarkan teknologi dan fitur-fitur terbaik," klaim Vice President of Corporate Communication BMW Group Indonesia (BGI), Jodie O'tania di Pine Hill, Lembang, Bandung akhir November lalu.

Lalu apa saja yang ditawarkan dan membuat sosok mobil Inggris ini jadi unik membuat kami ingin merasakannya lebih jauh? yuk simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Performa
Setiap tuning yang dilakukan John Cooper Works terhadap produk varian MINI, bukan sekadar melakukan oprek sana dan sini. Di sektor mesin, penyesuaian yang mereka lakukan memang cukup sempurna. Termasuk membuat bobotnya jadi lebih ringan dan penambahan power kit khas ala John Cooper Works.

Alhasil dari tenaga standar yang dihasilkan versi MINI Cooper S yang hanya 192 daya kuda (dk), naik hingga mendekati 40 dk menjadi 231 dk. Performa ini didapat dari mesin 1.998 cc, dengan dukungan komponen twin power-turbo sistem turbocharged. Sistem ini terintegrasi dengan cast steel manifold, direct injection dan sistem kendali variabel berbasis valvetronic.

Karena wajib memenuhi permintaan performa tinggi, tak heran jika material yang digunakan di mobil ini juga merupakan material tahan panas suhu tinggi. Tak heran jika torsi yang mampu dihasilkan pun sangat besar, yaitu 350 newton meter (Nm) di gasingan mesin 1.450 rotasi per menit (rpm), hingga 4.500 rpm.

Lantaran semburan tenaga yang sangat besar, MINI mengakalinya dengan menggunakan penggerak empat roda yang cukup adaptif. Traksi roda akan memprioritaskan putaran di penggerak depan, namun akan responsif memindahkan traksi putaran ke roda belakang jika roda depan kehilangan momen.

Saat kami menjajalnya langsung di Sirkuit Bridgestone, Karawang-Jawa Barat, mobil ini memang terlihat sangat nurut. Mulai dari putaran bawah sampai putaran atas, kecepatan rendah dan tinggi, bantingan kemudi hingga body roll (efek gravitasi saat menikung) terminimalisir berkat teknologi all wheel drive-nya.

Untuk penghitungan akselerasi secara presisi, memang tak kami lakukan. Namun jika melihat klaim data dari MINI, mobil ini hanya butuh 6,5 detik dari titik diam.

"Tuning yang dilakukan JCW selama 10 tahun terakhir memang cukup pas dan sempurna bagi penikmat mobil berperforma tinggi tapi sesuai dengan jalan raya. Varian ini memang diciptakan cukup kompleks ketimbang MINI versi lain yang ada di jajaran produknya. Mulai dari desain mesin, transmisi, penggerak roda ALL4 AWD bekerja dengan dengan kompak. Sistem aerodinamikanya pun dibuat lebih pas tapi tidak menghilangkan esensi MINI yang sebenarnya," klaim Training Manager BMW Group Indonesia Arifin Makaminan.

Suspensi dan Kemudi
Jika Anda menetapkan pilihan terhadap mobil ini, maka pakem terhadap mobil balap harus terpasang di otak. Bagian suspensi bakal cenderung lebih rigid bahkan untuk mode berkendara green/ekonomis sekali pun. Itu karena basis setelannya memang sudah dibuat lebih rigid, bahkan jika dibandingkan dengan MINI Cooper S dengan mode berkendara sport.

"Memang seperti itu. Jika dibandingkan dengan mode normal dan mode green, perbedaan tenaga akan berkurang sebanyak kurang lebih 20 persen. Begitu juga dengan tingkat rigiditasnya. Tapi senyaman-nyamannya sistem suspensi di JCW, masih akan lebih rigid dibandingkan mode sport di tipe Cooper S. Jadi tak perlu kaget."

Tak berbeda dengan sistem suspensi, bagian kemudi pun diatur secara elektronik sesuai dengan mode berkendara yang terpasang. Jika terpasang di mode berkendara sport, maka putaran kemudi akan terasa lebih berat, untuk memberikan efek stabil di kecepatan tinggi.

Sensor Elektronik, ALL4 dan Kelistrikan
Namanya mobil berperforma tinggi, bobot adalah hal yang paling utama. Sistem elektronik dan kelistrikan yang memang bisa dikurangi, akan dikurangi. Selama itu tidak bersinggungan langsung dengan sistem keselamatan berkendara di mobil tersebut.

Posisi fog lamp diganti dengan jalur ventilasi udara untuk pendinginan mesin berpeforma tinggi.

Arifin menjelaskan bahwa salah satu alasan mengapa jok di versi JCW tak menggunakan sistem motorized, adalah untuk mengurangi bobot. Tak hanya di bagian jok, sistem kelistrikan seperti fog lamp juga ditiadakan. Selain alasannya untuk membuat jalur ventilasi pendinginan untuk mesin di lokasi fog lamp itu.

Bagian yang paling menarik adalah cara kerja ALL4 (penggerak empat roda) yang dimilikinya. Saat mencobanya berakselerasi di jalan licin, untuk bagian depan dan aspal di bagian belakang, kinerja sistem sensor traksi bekerja sangat cepat mentransfer tenaga ke roda yang mendapatkan traksi lebih baik.

Kami mencobanya dengan fitur dynamic stability control (DSC) aktif dan nonaktif. Bedanya saat DSC aktif, tenaga yang tersalur ke roda akan diatur agar tetap mendapatkan traksi. Sementara jika tak aktif, roda cenderung akan selip di jalan yang licin saat berakselerasi.

Kesimpulan
Dengan semua performa yang ditawarkan mobil ini, rasanya sangat masuk akal jika BMW Group Indonesia membanderolnya dengan harga di atas Rp1 miliar. Mulai dari kepuasan sensasi performa hingga gaya, semuanya tersaji di mobil yang merupakan rival langsung Audi RS Q3 Performance ini.


(UDA)