Mobil Listrik

Era Mobil Listrik Dimulai, Charging Connector Wajib Seragam

Ahmad Garuda    •    Selasa, 05 Dec 2017 17:02 WIB
mobil listrikbmw
Era Mobil Listrik Dimulai, <i>Charging Connector</i> Wajib Seragam
Sistem pengecasan atau charging connector wajib seragam jika ingin era mobil listrik bisa diterima secara cepat. Medcom/Ekawan Raharja

Bandung: BMW Group Indonesia, salah satu pabrikan yang siap menyambut era mobil listrik di Indonesia. Permasalahannya justru regulasi komprehensifnya belum ditetapkan pemerintah. Padahal ini sangat vital bagi APM untuk menyiapkan strategi pemasaran mobil listrik.

Dari hasil obrolan santai dengan Training Manager BMW Group Indonesia, Arifin Makaminan di acara MINI Adventure, Bandung pekan lalu, bahwa mereka ingin regulasinya jelas. Ia memberikan salah satu contoh paling mudah adalah soal konektor pengisian baterai.

"Hal ini memang sepele, tapi ini akan sangat menentukan perkembangan mobil listrik di pasar nasional. Jika konektor sama, maka secara mudah fasilitas umum juga bisa membuat parkiran khusus mobil listrik yang dilengkapi konektor pengisian baterai. Jadi tak ada lagi khusus untuk merek ini dan merek itu," klaim Arifin.

Kalau untuk konektor yang digunakan BMW di i8 atau i3, sudah sesuai dengan konektor general mobil listrik yang ada di Eropa. Yaitu konektor dengan 5 pin yang terkoneksi. Arifin menjelaskan bahwa ini berbeda dengan konektor listrik di rumah.

"Konektor ini sudah umum dipakai bukan hanya untuk mengisi daya baterai di mobil listrik tersebut. Tapi juga untuk kepentingan sensor yang membaca arus listrik yang masuk. Kemudian pembaca temperatur dan lain-lainnya. Umumnya untuk sistem konektor ini, biasanya akan tetap terkontrol listrik di wallbox-nya dan juga dari konektor ke mobil itu sendiri. Tujuannya, mencegah arus pendek jika terjadi kondisi yang berbahaya."

Hal itu telah mereka buktikan di i8 yang sudah dipasarkan sejak GIIAS 2017. Mobil yang berpenggerak plug-in hybrid tersebut punya tingkat pengamanan saat melakukan isi ulang baterai cukup bagus. Terdapat mode untuk mengatur arus listrik yang masuk ke baterai mobil.

"Jika daya listrik di rumah cukup besar, bisa setelah maksimal, sehingga sistem pengisian baterai tak berlangsung lama. Tapi kalau hanya 2.200 watt, bisa disetel ke versi low. Jadi sedotan listrik dari mobil juga tak begitu besar dan tak mambuat listrik di rumah jadi tekor."

Edukasi tentang perilaku mobil listrik yang dilakukan BMW Group di Indonesia, patut diacungi jempol. Mengingat hal-hal detail seperti ini, terkadang menimbulkan masalah dan komplain besar dari konsumen jika pengguna tidak memahami prosedur dan kualifikasi umumnya. Asal beli teknologi tanpa memahaminya, justru bisa jadi masalah tersendiri.

Bisa ditengok kembali bagaimana mereka mengenalkan BMW i8. Meski masih menggunakan mesin pembakaran internal 3 silinder 1.500 cc, namun bisa dibilang, ekspektasi belajar menggunakan mobil listrik di i8 sudah sangat tinggi.


(UDA)