Industri Otomotif

Mercedes-Benz Sesalkan Pemecatan darI Gaikindo

Ghani Nurcahyadi    •    Kamis, 22 Feb 2018 06:49 WIB
mercedes-benz
Mercedes-Benz Sesalkan Pemecatan darI Gaikindo
Mercedes-Benz sesalkan pemecatan mereka dari Gaikindo. Dok MI

Jakarta: Mercedes-Benz dipecat secara tak terhormat dari keanggotaan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Surat dari asosiasi industri otomotif yang mendarat di meja President Director PT. Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI), Roelof Lamberts, 15 Februari silam jadi momen yang sangat disesalkan oleh pabrikan mobil asal Jerman tersebut.

Surat bernomor 23/PG/II/2018 yang ditandatangai Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara itu secara tegas menyebutkan Mercedes-Benz Indonesia bukan lagi menjadi anggota Gaikindo sejak 15 Februari 2018. Penyebabnya adalah sikap Mercedes-Benz yang tak lagi memberikan data penjualan kepada Gaikindo yang disebutkan dalam surat sejak Mei 2017 silam.

Lamberts mengaku menyayangkan keluarnya surat "pemecatan" tersebut, karena menurutnya, Mercedes-Benz dan Gaikindo sangat dekat dalam menemukan solusi permasalahan yang terjadi sejak pertengahan 2017 tersebut. Pihaknya, sebenarnya tinggal menunggu persetujuan dari Daimler AG di Jerman untuk kembali memberikan data penjualan kepada Gaikindo,

"Kami pun sebenarnya terus memberikan data kepada Gaikindo, tapi tidak dalam level yang mereka inginkan. Kami memberikan data penjualam berdasarkan penamaan model utama yang juga sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 79/2013. Sementara Gaikindo ingin data sangat detail hingga ke level varian," kata Lamberts dalam wawancara khusus dengan Media Indonesia di ruang kerjanya, Senin (19/2).

Buntut permasalahan Mercedes-Benz dan Gaikindo memanglah persepsi soal data yang harus diserahkan. Keberatan Mercedes-Benz berasal dari publikasi data tersebut di situs resmi Gaikindo. Menurut Lamberts, publikasi data secara detail berdasarkan kebijakan Daimler hanya bisa dilakukan oleh institusi pemerintah, sementara Gaikindo dianggap tidak memiliki mandat tersebut.

Karena itu, Mercedes-Benz meminta adanya tembusan (link) dari laman Gaikindo ke laman Kementerian Perindustrian sebagai pihak yang menerima data secara detail dari Mercedes-Benz. Link tersebiut sebenarnya sudah dibuat di laman Gaikindo.

"Tapi sebagai perusahaan multinasional, kami tentu membutuhkan persetujuan dari induk perusahaan kami di Jerman dan katakanlah kami butuh semacam surat konfirmasi dari Kementerian Perindustrian mengenai adanya link tersebut. Konfirmasi tersebut sebenarnya dalam proses, sehingga kami cukup kaget dengan keluarnya surat pemecatan," ujar Lamberts.

Ia menambahkan, bersama dengan CEO PT. Mercedes-Benz Indonesia akan merespon surat pemecatan dengan poin utama yaitu menyesalkan pemecatan, menyanggah beberapa komentar yang tidak sesuai fakta dalam surat Gaikindo, dan meminta kesabaran Gaikindo menyelesaikan permasalahan demi kepentingan bersama.

Skenario Terburuk
Lamberts mengungkapkan, secara penjualan dan pengenalan merek, pemecatan dari Gaikindo memang tidak akan berpengaruh terhadap Mercedes-Benz yang bahkan masih bisa ikut dalam pameran yang diselenggarakan Gaikindo. Hanya saja, sebagai pabrikan mobil asal Eropa yang punya pangsa pasar 1 persen di Indonesia, suara Mercedes-Benz bisa "hilang" di pasar.

"Saat ini ada beberapa karyawan kami yang tergabung dalam kelompok kerja untuk mengevaluasi kebijakan otomotif di Indonesia. Hasilnya akan direpresentasikan oleh Gaikindo. Jadi kemungkinan 'suara' kami akan hilang dalam evaluasi tersebut. Kami tentu harus menemukan cara baru menyuarakan kepentingan pabrikan Eropa di Indonesia," tuturnya seraya berharap pembicaraan dengan Gaikindo untuk mencari solusi terus berlanjut.

Terpisah, Sekum Gaikindo, Kukuh Kumara mengatakan, pihaknya tidak menutup sama sekali pintu bagi Mercedes-Benz untuk kembali menjadi anggota Gaikindo, "tentunya harus memenuhi persyaratan yang ada. Mereka bisa mengajukan aplikasi keanggotaan kembali," tandasnya.


(UDA)