Penjualan Supercar

Pasar Supercar di Indonesia Turun 80 Persen

Ahmad Garuda    •    Sabtu, 16 Dec 2017 10:35 WIB
penjualan mobilsupercar
Pasar Supercar di Indonesia Turun 80 Persen
Penjualan supercar di Indonesia turun drastis. medcom.id/Ahmad Garuda

Jakarta: Perekonomian nasional dikatakan tumbuh tipis dari tahun lalu. Namun penjualan otomotif nasional masih terbilang sulit, terutama di segmen supercar. Dari klarifikasi yang diungkapkan President Director Prestige Image Motorcars, Rudy Salim, bahwa penurunan penjualan supercar di Indonesia mencapai 80 persen.

Bagian yang membuat mereka semakin sulit bergerak memasarkan produk-produk supercar di Indonesia adalah karena ragam kenaikan pajak yang terlalu tinggi. Hal ini membuat keinginan mereka yang ingin punya supercar jadi semakin rendah.

"Banyak orang datang ke dealer ini dan sangat tertarik untuk memiliki Lamborghini atau supercar lainnya. Tapi ketika mereka menanyakan masalah harga dan kami bilang Rp17 miliar, mereka bilangnya kami hanya bercanda. Ketika mereka tahu memang seperti itu, barulah sang konsumen ini terperangah saat kami jelaskan seperti ini dan seperti itu," ujar Rudy.

Pria ramah itu menjelaskan bahwa saat ini mereka seperti dibekuk oleh pemerntah. Mengingat begitu banyak pembayaran pajak yang harus dilalui untuksebuah supercar. Padahal mobil-mobil berperforma super ini, menjadi salah satu indikator kesuksesan perekonomian sebuah negara.

"Di negara kita ini aneh. Saat negara-negara lain merangkul orang-orang kaya baik dari dalam negeri untuk berinvestasi dan membuang duit di negara mereka, kita malah sebaliknya. Harga supercar yang sangat tinggi bisa sebanyak 3 kali lipat dari negara lain, membuat orang-orang kaya memilih untuk menghabiskan uangnya di luar negeri. Tapi kami akan terus berusaha untuk mengubah pola pikir ini dengan berupaya eksis menjual mobil-mobil supercar terbaru."

Salah satu bukti nyata turunnya penjualan supercar di Indonesia, menurut Rudy bisa dilihat dari peredaran supercar yang ada di Indonesia. Dari pengamatannya, saat ini sangat jarang supercar produksi 2015 ke atas yang beredar di Indonesia. Tahun produksi terakhir yang paling banyak beredar adalah 2012-2014. Itu pun untuk 2014 sudah jarang-jarang. "Dari sini kita bisa katakan bahwa jualan supercar memang semakin sulit."

Tentang komitmen mereka ini, bukan hanya sekadar bermain supercar terbaru. Namun juga konsisten bermain di segmen mobil listrik seperti Tesla. Tapi Rudy punya pandangan tersendiri tentang pasar mobil listrik di Indonesia yang akan sulit berkembang jika pemerintah tak serius membuat regulasi yang benar-benar sesuai dengan keinginan produsen mobil listrik secara global.


(UDA)