Komponen Aftermarket

Impor Ban Sektor Industri Sulit, Pengusaha Ban 'Teriak'

Ahmad Garuda    •    Jumat, 26 May 2017 18:19 WIB
komponen aftermarket
Impor Ban Sektor Industri Sulit, Pengusaha Ban 'Teriak'
Ban-ban berukuran besar untuk industri, cukup sulit di Indonesia, karena harganya yang jadi sangat mahal. HarryHammers

Metrotvnews.com, Jakarta: Kebijakan pemerintah yang membatasi jumlah ban impor yang masuk ke Indonesia, membuat asosiasi komponen karet bundar itu mengeluh. Gabungan Importir dan Pedagang Ban Indonesia (Gimpabi) mengharapkan pemerintah memberikan kelonggaran terhadap proses impor ban yang makin sulit dilakukan.

Menurut mereka, kebijakan pembatasan impor ini berdampak pada harga yang memberatkan pelaku usaha di sektor riil. Bendahara Gimpabi, Rudy Josano mengungkapkan kebijakan pemerintah membatasi ban impor melalui Permendag No 77/M-DAG/PER/11/2016 yang mulai berlaku 1 Januari 2017, mengakibatkan ban untuk industri tertentu sulit ditemui di pasar.

Akibat situasi ini, tidak hanya importir ban yang terancam usahanya, para pelaku usaha yang masih tergantung dengan ban impor seperti sektor pelabuhan, tambang, perkebunan dan logistik harus menanggung beban biaya yang semakin tinggi.

“Mayoritas ban yang diimpor tidak diproduksi di Indonesia dan digunakan untuk kebutuhan sektor riil. Jika kondisi ini tidak berubah, dampaknya akan sangat berat bagi pelaku usaha, bukan hanya anggota Gimpabi tapi terutama pengusaha di sektor strategis seperti pelabuhan, tambang, perkebunan dan transportasi yang tergantung pada ban impor,” ungkap Rudy di Jakarta.

Sampai saat ini, porsi ban impor hanya sekitar 10 persen dari total penjualan ban nasional di Indonesia. Rudy melanjutkan, sebagian besar ban impor merupakan ban jenis radial, ban pelabuhan, ban pertambangan dan ban perkebunan yang diameternya bisa mencapai 2-3 meter (Giant Tire) yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri.

Ban tipe radial truck dan radial light truck memiliki keunggulan dibandingkan ban bias yang diproduksi produsen ban di Indonesia. Di antara keunggulan ban radial itu adalah secara produk memiliki tingkat keselamatan tertinggi (safety), usia pakai yang lebih lama atau tahan lama, mampu menghemat bahan bakar serta menghemat biaya perawatan.

Bagi para pengguna, keunggulan ban radial tersebut akan sangat menguntungkan untuk menekan biaya operasional dalam kegiatan bisnisnya. Rudy menambahkan, dengan porsi yang kecil, ban impor sesungguhnya bukanlah ancaman bagi ban-ban yang diproduksi di Indonesia, melainkan ban impor merupakan tipe ban “Value Added” dengan manfaat yang lebih banyak.

Gimpabi berharap pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dapat segera melakukan evaluasi mengenai mekanisme importansi ban di Indonesia. Selain itu, Gimpabi juga meminta pemerintah untuk memberikan ruang dan perlakukan yang sama di antara para pelaku usaha ban di Indonesia.


(UDA)