Masa Depan Mobil Listrik Bisa Suram di Bawah Komando Trump

Hilman Haris    •    Selasa, 22 Nov 2016 13:25 WIB
industri otomotif
Masa Depan Mobil Listrik Bisa Suram di Bawah Komando Trump
industri mobil listrik selama ini duduk nyaman di AS karena mendapat dukungan dari Presiden Barack Obama (AFP)

Metrotvnews.com: Kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat periode 2017--2021 membuat sejumlah pelaku industri mobil listrik ketar-ketir. Maklum, industri mobil listrik selama ini duduk nyaman di AS karena mendapat dukungan dari Presiden Barack Obama. Keistimewaan serupa belum tentu didapat ketika Trump mulai menjalankan tugas sebagai Presiden AS.

Sebelumnya, Obama sangat ingin mobil listrik segera mengaspal di jalanan AS. Untuk mewujudkan ambisi itu, pemerintahan AS mengeluarkan dana USD3,9 juta (Rp54 miliar) agar proses uji teknologi yang bakal diterapkan di mobil otonom terwujud. Dengan begitu, Obama dan pemerintahannya punya target ambisius agar mobil otonom mulai memenuhi jalanan AS pada 2025.

Kini, situasi berbalik. John Mashburn, Penasihat Kebijakan Senior Trump di Wall Street Journal memprediksi Trump bakal melakukan efesiensi bahan bakar dan standar emisi yang tidak merugikan pekerja dan konsumen AS.

”Pemerintahan Trump akan menyelesaikan kajian komprehensif dari semua peraturan federal. Ini termasuk efisiensi bahan bakar dan emisi standar untuk memastikan mereka tidak merugikan konsumen atau pekerja Amerika," kata John.

Artinya, Trump bakal meninjau kebijakan kendaraan otonom saat pemerintahan Obama serta mencabut undang-undang yang mewajibkan produsen membuat mobil yang beremisi rendah.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kebijakan Trump terkait kendaraan listrik. Butuh beberapa waktu sebelum kita memehami prioritas kebijakan pemerintah baru," kata Dave Reichmuth, mekanik senior di Union of Concerned Scientists untuk program kendaraan emisi rendah.

Posisi para pabrikan pembuat mobil listrik di AS makin terpojok setelah sejumlah kelompok industri otomotif besar  menyuarakan untuk mendukung kebijakan revisi Trump. 

"Mereka meminta Trump merevisi mandat efisiensi bahan bakar yang bisa merugikan mereka dengan jumlah miliaran dolar dan menyerukan peninjauan skala penuh kebijakan kendaraan otonom saat pemerintahan Obama," lansir Reuters.

Dan Sperling, direktur  University of California Davis Institute for Transportation Studies turut mengomentari situasi ini. Menurutnya, surat yang diajukan kepada Trump tidak harus ditafsirkan sebagai permohonan untuk menjatuhkan standar emisi atau ekonomi bahan bakar. 

"Apapun kebijakan Trump, seluruh dunia tidak akan meninggalkan Perjanjian Paris terkait mengurangi pertumbuhan emisi karbon secara global," tegas Sperling.

"Industri otomotif telah melakukan investasi besar-besaran di kendaraan listrik. Beberapa pihak memang memilih untuk memperlambatnya. Namun, sebagian besar perusahaan akan terus melanjutkan proyek besar ini," tutupnya. 


(HIL)