Kecelakaan Lalu Lintas

Koenigsegg CCX ini Remuk Usai Tabrak Trotoar

M. Bagus Rachmanto    •    Senin, 19 Sep 2016 10:13 WIB
kecelakaan mobil
Koenigsegg CCX ini Remuk Usai Tabrak Trotoar
Koenigsegg CCX 2009 hancur berkeping-keping setelah menabrak trotoar. Superstreetonline

Metrotvnews.com: Seperti namanya, supercar didesain punya kecepatan yang super saat dipacu di atas aspal. Dampaknya jika mengalami kecelakaan saat kecepatan tinggi pun biasanya sangat besar. Inilah yang terjadi pada Koenigsegg CCX, yang hancur bekeping-keping setelah mengalami kecelakaan di Meksiko.

Meski atap dan pintu sudah hancur, penampakan supercar kecelakaan ini memperlihatkan bagian jok pengemudi/penumpang dan dashboard yang masih utuh. Ini menandakan sistem keamanan/keselamatan telah bekerja sesuai fungsinya.

Menurut laporan media lokal, kecelakaan itu terjadi di jalan raya di Nuevo Laredo negara bagian Meksiko, Tamaulipas, sekitar 10 mil sebelah selatan perbatasan AS-Meksiko dekat Laredo, Texas, pekan lalu. Saksi mengatakan, sebelum kecelakaan Koenigsegg melaju dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya menabrak trotoar dan salto di udara beberapa kali.
 
Dua penumpang yang dilaporkan selamat segera dilarikan ke rumah sakit, namun kondisi mereka belum diketahui. Laporan tersebut mengklaim, ini adalah satu-satunya Koenigsegg di Meksiko, dan kemungkinan merupakan barang simpanan/koleksi.

Karena baru-baru ini supercar tersebut diiklankan untuk dijual oleh dealer mobil mewah di luar Houston, Texas. Iklan di website dealer menerangkan, jika Koenigsegg CCX 2009 ini jarang dipakai dengan jumlah ordometer yang masih sedikit, yaitu 1.721 mil. Harga yang ditawarkan mencapai USD1,4 juta (sekitar Rp19,5 miliar).

Mobil ini mengusung mesin 4.7 liter twin supercharged V8 dan mampu menghasilkan tenaga 806 daya kuda pada 7000 rpm dan torsi 679 lb ft pada 5700 rpm. Sementara dari posisi diam ke 100 km per jam, hanya butuh 3,2 detik, dengan top speed mencapai 400 km per jam.

Di Indonesia sepanjang 2015 lalu, kasus kecelakaan yang melibatkan supercar juga cukup banyak. Hal ini bisa terjadi lantaran banyak pemiliki yang belum paham bagaimana cara mengendari mobil mereka.

Jusri Pulubuhu, Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC) menerangkan, bahwa banyak pemilik supercar yang masih kurang memiliki kemampuan untuk mengemudikan mobil bertenaga super tersebut. Menurutnya, skill tidak hanya mengenai teknik mengemudi, tetapi meliputi pula faktor soft skill.

"Skill mengemudi sendiri meliputi pengenalan karakteristik tenaga, kemampuan handling, dan juga teknik pengereman. Sedangkan psikis lebih kepada pola pikir saat mengemudi dan hal-hal disekitar," jelasnya, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
(UDA)