Shell Eco-Marathon 2018

Plus-Minus Tim Indonesia di SEM 2018

Ekawan Raharja    •    Sabtu, 10 Mar 2018 16:56 WIB
kendaraan ramah lingkunganshell
Plus-Minus Tim Indonesia di SEM 2018
Tim dari Universitas Negeri Yogyakarta di SEM 2018. Medcom.id/Ekawan Raharja

Singapura: Indonesia merupakan salah satu peserta yang sudah lama ikut di Shell Eco-Marathon (SEM). Sepak terjangnya juga cukup mencuri perhatian panitia karena memiliki kualitas yang cukup mumpuni. Sayangnya, masalah pemahaman bahasa Inggris membuat banyak peserta yang kurang paham soal regulasi.

Technical Director Shell Eco-Marathon, Colin Chin, mengakui bahwa peserta asal Indonesia memiliki kualitas. Bahkan dari tahun ke tahun selalu ada peningkatan yang disajikan oleh mahasiswa-mahasiswa kebanggaan Indonesia.

"Bisa dibilang semua ada perbaikan dari segi kualitas mobil, dan mengikuti peraturan milik kita. Jadi ada yang improvisasi banyak, ada juga peningkatannya tidak terlalu banyak. Tetapi bisa dibilang Indonesia sudah memiliki standar yang baik," ucap Colin Chin Jumat (9/3/ 2018) di Changi Exhibtion Center Singapura.

Meski demikian, tetap ada kekurangan di tim-tim asal tanah air. Kendala penguasaan Bahasa Inggris menjadi masalah banyak tim-tim di Indonesia ketika membahas regulasi yang berlaku.

"Sebenarnya lebih kepada pemahaman akan peraturan. Melalui kompetisi ini perlu memahami peraturan dan mengikutinya. Jadi kadang-kadang di beberapa fase dalam berbahasa Inggris, atau tidak begitu teliti melihat peraturan, membuat mereka sulit kesulitan sendiri," lanjut Colin Chin.

Kendala ini pun sebenarnya juga dialami oleh beberapa tim dari negara lainnya seperti Vietnam atau Thailand. Dia menyarankan sebaiknya di dalam satu tim terdapat satu orang yang menguasai Bahasa Inggris, agar dapat menerjemahkan dengan baik peraturan-peraturannya.

Colin juga mengingatkan kalau tujuan utama dari SEM adalah untuk membuka pikiran pelajar  mengetahui tentang masalah energi yang ada saat ini. Dia berharap semua lapisan masyarakat bisa sadar mengenai isu-isu energi yang terjadi.

"Harapan saya ke depannya bukan hanya untuk tim Indonesia, tapi seluruh tim di Asia, bisa membuat mobil lebih baik sampai ke tahapan Eropa, dari segi kualitas mobil dan juga hasilnya. Saya berharap semua dapat menunjukan kalau Asia juga bisa," tutup Colin.


(UDA)