Tips Knowledge

Mudik Nyaman dengan City Car? Jaga Kecepatan Ideal

M. Bagus Rachmanto    •    Rabu, 13 Jun 2018 12:49 WIB
tips knowledge
Mudik Nyaman dengan City Car? Jaga Kecepatan Ideal
Selan kapasitas angkut, perhatikan juga batas kecepatan agar mudik aman dan nyaman. Medcom.id/M. Bagus Rachmanto

Jakarta: Mudik menggunakan mobil jenis city car memang perlu mendapat perlakuan yang berbeda ketimbang mobil jenis sport utility vehicle (SUV) atau pun multi purpose vehicle (MPV). 

Alasannya beragam, mulai dari dimensinya yang mungil hingga karakteristiknya yang didesain bukan untuk melakukan perjalanan jauh lintas provinsi. Tapi bukan berarti mobil kota tidak boleh dipakai buat perjalanan jauh. 

Ada beberapa poin penting yang memang tidak boleh diabaikan ketika mudik menggunakan city car, di antaranya ground clearence yang rendah, serta kapsitas penumpang dan barang yang terbatas. 

"Oleh sebab itu jangan memaksakan kapasitas angkut penumpang dan barang, agar tetap nyaman dan menjaga manuver mobil lebih baik," terang Chief of Trainer Rifat Drive Labs (RDL), Herry Wahyudi kepada Medcom.id di Jakarta, Rabu (13/6/2018).

Meski demikian mudik pakai city car juga punya kelebihan, yakni konsumsi bahan bakarnya yang terbilang irit dibanding mobil jenis lain yang kapasitas mesinnya lebih besar. Sebut saja New Hyundai Grand i10 GLX yang menggending mesin Kappa 1.25 MPI D-CVVT. 

Hyundai Grand i10 GLX manual yang meminum bensin oktan 92, konsumsi rata-rata bahan bakar disebut bisa mencapai 12,0 km per liter di dalam kota, dan luar kota mencapai 17 km per liter.

Namun untuk membuat city car tetap irit, pentung untuk mempengaruhi daya angkutnya. Bobot yang banyak otomatis membuat kinerja mesin lebih berat. Jangan sampai terasa sulit ketika mau berakselerasi. 

"Untuk kecepatan Kendaraan setiap pengemudi harus benar-benar memahami kondisi tersebut. Jika pengendara dalam memacu kendaraan, contoh 70 km per jam kondisi genggaman tangan sudah mulai mengeras cengkramannya dan mulai merasakan tegang atau kurang rilex berarti kondisi tersebut sudah tidak aman dan nyaman, maka dari itu kurangi kecepatan 10 - 20 km per jam," beber Herry.


(UDA)