Diet Ketat, Himalayan Ini Jadi yang Tercepat

Ainto Harry Budiawan    •    Sabtu, 20 May 2017 07:30 WIB
royal enfield
Diet Ketat, Himalayan Ini Jadi yang Tercepat
Bentuk asli Royal Enfield Himalayan sudah tidak dapat dikenali lagi. inline3/silodrome

Metrotvnews.com: Sejak produksi pertamanya pada 2015, Royal Enfield Himalayan meraih popularitas sebagai adventure-tourer murah meriah. Salah satu keunggulan sepeda motor made in India tersebut adalah mesinnya sederhana sehingga mudah diperbaiki.

Masalahnya mesin LS410 SOHC berkapasitas 411 cc tersebut juga dikenal kurang sangar tenaganya. Walau torsi puncaknya yang 32 Nm pada 4.000-4.500 rpm tergolong besar, tapi tenaga terbesarnya tidak sampai 25 daya kuda. Terlalu kecil hingga selalu kalah dalam balapan melawan sepeda motor 350 cc di jalan raya.

Namun mata Aseem Singh Pawar melihat potensi lain di balik kelemahan tersebut. Modifikator yang bergabung dalam workshop Inline3 di New Delhi, India, terpikir untuk membuat Himalayan untuk diterjunkan dalam balap drag race. Proyek yang tidak mudah karena akan menyimpang dari ciri khas Royal Enfield yang vintage look.

Ide penuh risiko itu disambut baik South Delhi Motor. Satu unit generasi terbaru Himalayan yang berpendingin oli dengan pasokan bahan bakar injeksi sebagai bahannya. Pesan distributor terbesar sepeda motor brand Inggris di New Delhi itu cuma "harus pantas dipajang di showroom kami".

Aseem paham kunci pertama kemenangan drag race di padang garam adalah aerodinamika. Himalayan yang telanjang diberinya 'baju' berupa fairing buta model peluru. Semua dibentuk ulang dengan pelat baja ringan dan almunium, termasuk tanki bahan bakar bahkan sadelnya.

Ground clearance diturunkan hingga 4 inch dengan memangkas kaki-kaki dan menyesuaikan ulang kontruksi rangkanya. Alhasil meski memakai fork dengan travel pendek, tak urung ujung atasnya menyembul keluar. Pipa knalpot disunat habis dan ditambahkan muffler custom seperti corong yang unik.

Kunci berikutnya bobot yang seringan-ringannya. Maka semua komponen mubazir dalam ajang balap dicopot, temasuk radiator dan monoshock di belakang. Rangka penyangga sadel dilas langsung ke lengan ayun sehingga Himayalan raw colour ini menjadi hard tail.

Berkat diet ketat itu, bobot kering Himalayan karya Aseem cuma 160 kilogram. Susut lebih dari 20 kilogram dari bawaan aslinya.
 


(LHE)