Komponen Otomotif

90 Persen Material Busi Masih Impor

Ekawan Raharja    •    Rabu, 09 Nov 2016 10:00 WIB
komponen otomotif
90 Persen Material Busi Masih Impor
90 persen komponen busi NGK masih di pasok dari Jepang. MTVN/Ahmad Garuda

Metrotvnews.com, Jakarta: Persaingan industri komponen pemantik api di ruang bakar mesin atau yang dikenal dengan busi, memang tidak terlalu besar. Selain tak banyak yang bisa membuat busi berkualitas, juga dibutuhkan peralatan canggih dan material serba impor. 

Salah satu contoh produsen busi di Indonesia yang tergolong besar adalah NGK. Busi yang asal namanya dari Jepang itu, butuh proses pembuatan yang cukup rumit. Dengan sistem robotik yang juga dipadukan finishing menggunakan proses manual pengerjaan tangan. 

"Material busi 90 persen kami impor Jepang. 10 persen sisanya itu hanya bagian kemasan yang dibuat sepenuhnya di Indonesia. Alasan pemilihan material impor ini, untuk menjaga kualitas yang sesuai standar NGK dari Jepang," beber Asisten Manager Produksi PT. NGK Busi Indonesia, Syamsuddin, dalam kunjungan pabrik beberapa jurnalis nasional pada Sabtu (4/11/2016) lalu.

Syamsuddin melanjutkan bahwa mereka sangat menjaga kualitas. Jika kualitas meleset dari standar yang ditetapkan, maka sulit membuat busi yang sesuai standar mereka. Ini juga akan mempengaruhi proses produksi, misalnya akan banyak busi gagal. Sehingga biaya produksi justru meningkat.

"Salah satu bagian menarik adalah keramik yang digunakan sebagai peredam panas. Itu dibuat dengan ramuan khusus. Makanya material harus lolos lisensi di pabrik pusat di Jepang."

Satu-satunya hal yang membuat khawatir pabrikan busi yang bermarkas di Ciracas, Jakarta Timur ini, adalah pemalsuan busi. Biasanya pemalsuan busi dilakukan dengan mengambil elektroda dan keramik busi asli. Sementara untuk kepala dan bagian metal busi, dirakit ulang dengan cara manual. Sehingga harga bisa jual lebih murah.


(UDA)