Test Ride

Membelah Trek Pegunungan dengan Honda CBR250RR

Ainto Harry Budiawan    •    Sabtu, 21 Oct 2017 10:00 WIB
test ride
Membelah Trek Pegunungan dengan Honda CBR250RR
Jalur pegunungan mudah dilibas dengan tiga mode berkendara. AHM-Dok. MTVN

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjajal sensasi motor sport 250 cc Honda yakni CBR250RR, memang selalu menghadirkan keistimewaan tersendiiri. Jalur yang dilalui pun istimewa karena paduan tiga kondisi jalan yang berbeda, jalanan perkotaan hingga pegunungan.

Kami memulai perjalanan dari Ungaran, Jawa Tengah dengan titik akhir Lanud Gading, Yogyakarta. Istimewanya, sejumlah petinggi PT Astra Honda Motor (AHM) ikut dalam turing kali ini, dan pastinya rombongan juga mendapatkan pengawalan.

Turing dengan jarak 155 kilometer ini melewati Ungaran, lingkar Salatiga, Kopeng, Magelang, Muntilan, Yogyakarta, Prambanan, dan jalan menuju wilayah Wonosari, Yogyakarta yang padat oleh wisatawan dan bikers.

Ini pertama kalinya menggeber CBR250RR, posisi duduk agak membungkuk khas motor sport. Jok termasuk empuk, posisi setang under yoke dan pijakan kaki sudah pas, dan nyaman untuk pengendara berpostur 172 cm.

Memulai perjalanan, jalur kota yang ramai dengan truk dan bus besar, serta naik-turun jadi santapan awal rombongan. Tarikan mesin kami rasakan responsif, lebih baik posisi riding mode pada mode Sport dan Sport+.

Jalur pegunungan yang sempit, tanjakan curam, turunan, tikungan tajam dan basah kami libas dengan mudah. Motor stabil dipakai menikung, meski pakai ban standar dan jalanan basah karena hujan.

Namun karena ini adalah motor sport, pundak, leher dan pergelangan tangan akan terasa pegal. Terlebih ini adalah rombongan yang bergerak tak begitu cepat, rasa pegal sangat terasa.

Riding Mode & Throttle By Wire
Teknologi throttle by wire, membuat respon katup throttle body digerakkan oleh komputer, dengan membaca pergerakan sensor pada selongsong gas. Riding mode ini mengatur ulang, sesuai pilihan pengendara.

Oleh karena itu, jangan coba pakai mode Comfort saat melibas jalur pegunungan, karena justru akan membuat tarikan motor berasa lemot. Terlebih untuk jalur menanjak dan ramai, yang butuh respon mesin secara instan. Kecuali Anda memang ingin santai.

Keunggulan mode Comfort baru terasa ketika cruising dengan kecepatan sedang, motor jadi tak terlalu agresif. Ini kami rasakan dijalur Magelang menuju Muntilan, yang lurus dan relatif lancar. Teknologi ini jadi yang pertama dikelasnya.

Getaran mesin 250cc liquid-cooled 4-stroke DOHC 8-valve, paralel twin cylinder terbilang minim. Tenaga motor ini mencapai 38,1 daya kuda @12.500 rpm, dan torsi puncak 23,3 Nm @11.000 rpm.

Secara keseluruhan, motor ini menawarkan sensasi berkendara sporty dengan performa mesin yang memuaskan, handling mumpuni berkat konsep Total Control, meski membuat badan pegal ketika dipakai turing jarak jauh yang jadi konsekuensinya.

Data Spesifikasi
Dimensi
P x L x T: 2.060 x 724 x 1.098 mm
Jarak sumbu roda: 1.389 mm
Jarak terendah: 145 mm
Tinggi jok: 790 mm
Kapasitas tangki: 14,5 liter
Bobot: N/A

Mesin
Tipe: 4 langkah, DOHC 8 klep, parallel twin cylinder
Bore x stroke: 62 x 41,4 mm
Kapasitas: 249,7 cc
Tenaga maksimal: N/A
Torsi maksimal: N/A
Sistem pendinginan: Liquid cooled with auto electric fan
Sistem suplai bensin: PGM-FI
Throttle system: TBW system with accelerator position sensor
Rasio kompresi: 11,5:1
Transmisi: manual 6 speed
Gear shift pattern: 1-N-2-3-4-5-6
Starting system: Electric starter
Sistem kopling: Multiplate wet clutch with coil spring
Sistem pelumasan: Wet (pressing and spray)
Kapasitas oli: 1,9 liter (penggantian)

Sasis
Tipe sasis: Truss frame
Ban depan: 110/70-17 54S (Tubeless)
Ban belakang: 140/70-17 66S (Tubeless)
Rem depan: Hydraulic disc 310 mm, dual piston (STD & ABS type)
Rem belakang: Hydraulic disc 240 mm, single piston (STD & ABS type)
Suspensi depan: Inverted teleskopic 37 mm
Suspensi belakang: Aluminium swing arm (5 adjustable mono suspension with pro-link system)

Elektrikal
Tipe pengapian: Full transisterized
Aki: MF 12V-7 Ah
Busi: NGK SILMAR8C-9 (Iridium spark plug)


(UDA)