Balap Motor

Valentino Rossi Cedera, Jangan Salahkan Metode Latihan

Ahmad Garuda    •    Rabu, 06 Sep 2017 15:33 WIB
motogpvalentino rossi
Valentino Rossi Cedera, Jangan Salahkan Metode Latihan
Valentino Rossi Getol latihan motor enduro untuk melatih skill dan fisiknya. Revista Safety Car

Metrotvnews.com: Valentino Rossi secara mengejutkan mengalami cedera serius patah tulang kering dan dislokasi di kaki kanannya pada Kamis (31/8/2017). Cedera tersebut tidak jauh berbeda dengan yang Ia derita di MotoGP 2010 saat berlaga di kandang sendiri yaitu Sirkuit Mugello, Italia.

Kali ini, Rossi cedera karena melakukan latihan enduro. Ajang tersebut memang selalu diljadikan ajang latihan bagi pembalap kelas dunia untuk melatih durabilitas fisik dan teknik balapan. Apalagi Rossi yang cukup rutin melakukan latihan motocross atau dirt bike

Namun saat ini Ia berada di momentum yang tidak tepat. Lantaran masih banyak fans yang berharap Ia bisa menunjukkan persaingan besar untuk meraih titel juara dunia akhir musim balap nanti. Tapi cedera yang dialaminya, memaksa tim dokter untuk menegaskan Ia harus absen 2 seri untuk mempercepat proses pemulihan.

Pastinya banyak pihak yang menyayangkan, karena aktifitas pembalap gaek itu dianggap terlalu ekstrim. Semua orang tahu bahwa risiko latihan dengan motor motocross sangatlah besar, sehingga para pembalap biasanya harus siap mental menjalani kemungkinan-kemungkinan.

Bahkan kabarnya, bos Yamaha MotoGP, Lin Jarvis sempat mengoceh kepada Alessio Salucci atau yang akrab dipanggil Uccio (sahabat dekat Rossi di paddock). Ia kena omelan Jarvis karena membiarkan Rossi mengambil risiko terlalu besar.

Tapi apa mau dikata, dunia dirt bike, motocross dan enduro, sudah jadi bagian dari perjalanan karir balap the Doctor di MotoGP. Ia bahkan mengenal dunia motor trail bersamaan dengan ambisinya meniti karir balap prototipe dunia.

Menurut jurnalis senior dan kolumnis di MotoGP yaitu Mat Oxley, bahwa memisahkan Valentino Rossi dari ajang dirtbike, motocross dan enduro, itu sama saja memisahkan dua hal yang saling menghidupi. Mereka tak bisa dipisahkan satu sama lain, karena sudah mendarah daging di pikirannya sejak Ia masih kecil.

Lalu bagaimana dengan ambisinya untuk mengejar titel juara dunia ke-10 yang Ia impikan sejak 2010 lalu? Oxley dengan rileks menjawab bahwa Rossi berambisi meraih titel juara dunia tapi tidak lantas mengabaikan kesenangannya. Ia melakukan semua yang Ia sukai dan tidak ada lagi selain itu. Ia berbeda dengan pembalap lain. Jadi rasanya akan sia-sia untuk menyuruhnya berhenti dari ajang seperti itu.


(UDA)