Dugaan Kartel Harga

Dugaan Kartel Honda-Yamaha, TVS: Persaingan Ketat

Ekawan Raharja    •    Jumat, 07 Oct 2016 16:41 WIB
kartel harga motor
Dugaan Kartel Honda-Yamaha, TVS: Persaingan Ketat
TVS anggap setiap pabrikan sepeda motor punya strategi untuk dapat bertahan di tengah persaingan yang ketat dan sulit. Dok MTVN

Metrotvnews.com, Jakarta: TVS Indonesia dipanggil Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) untuk menjadi saksi di persidangan dugaan kartel Honda dan Yamaha. Pabrikan asal India tersebut menilai persaingan sepeda motor, khususnya di segmen skuter matik (skutik) 110-125 cc terbilang ketat.

"Persaingan industri sepeda motor di Indonesia ketat dan sulit. Banyak pabrikan berusaha untuk meningkatkan pangsa pasar," terang Presiden Direktur PT TVS Motor Company Indonesia (TMCI), V Thiyagarajan, Kamis (6/10/2016) di Kantor KPPU Jakarta.

Tim investigator KPPU menduga, Honda dan Yamaha bersekongkol untuk menaikan harga untuk produk Honda BeAT dan Yamaha Mio. Hal ini dilihat dari kenaikan harga lebih dari dua kali dalam setahun untuk skutik berkapasitas 110-125 cc tidaklah wajar.

"Selama 2014 ada kenaikan sebanyak tiga kali, total mencapai Rp400 ribu hingga Rp600 ribu," terang anggota tim investigator KPPU, Helmi Nurjamil.

Namun V Thiyagarajan menilai bahwa ini adalah strategi masing-masing perusahaan. Banyak faktor untuk menaikkan harga, seperti melihat faktor produksi, logistik, ataupun promosi.

"Karena setiap perusahaan punya strategi. Jika ada alasan yang valid untuk menaikkan harga, maka akan dinaikkan," lanjut pria berdarah India tersebut.

TVS pun memiliki produk di segmen 110 cc-125 cc yakni TVS Dazz. Semula ketika diluncurkan Juli 2013, skutik ini di banderol Rp9,9 juta. Kemudian mengalami kenaikan harga di Januari 2014 mengalami kenaikan Rp1 juta, Januari 2015 sebanyak Rp1 juta, dan Januari 2016 sebanyak Rp200 ribu.

"Tidak ada kebijakan mengharuskan perusahaan menaikan harga sekali dalam setahun. Waktu menaikan harga, melihat kondisi pasar," ucap V Thiyagarajan.


(UDA)