Teknis MotoGP

Pola Aerodinamika MotoGP yang Makin Kompleks

Ahmad Garuda    •    Senin, 13 Mar 2017 16:00 WIB
teknologi motogp
Pola Aerodinamika MotoGP yang Makin Kompleks
Sistem aerodinamika di motor Ducati yang cukup radikal. Ducati

Metrotvnews.com, Losail: Fungsi sistem aerodinamika di ajang balap memang turut menentukan mobil atau motor lebih nyaman dikendarai dan menciptakan kompetitifitas tinggi. Sistem ini biasanya akan memberikan efek pada saat kecepatan mobil balap atau motor balap tersebut berada di atas 150 km per jam.

Namun bagaimana dengan sayap kecil di motor MotoGP yang dimensinya cukup mungil dan diistilahkan dengan winglet itu? Dari data telemetry yang dipelajari sejumlah tim, mereka bahwa peran winglet memang cukup besar dan mampu membuat motor mereka lebih stabil saat melakukan akselerasi.

Saat itu dilarang, tim-tim balap MotoGP pun berlomba menciptakan inovasi untuk membuat motor mereka mendapatkan efek winglet. Meski komponen itu sudah tak digunakan lagi. Efeknya, kini ragam desain fairing hingga windshield pun mulai digunakan beberapa tim.

Mulai dari menggunakan sayap tersembunyi yang terdapat di motor Yamaha YZR-M1,  kemudian sayap tersembunyi di windshield Suzuki GSX-RR, hingga desain radikal windshield milik Aprilia dan Ducati. Adapun model desain yang diaplikasi Aprilia, terlihat masih wajar. Tapi desain milik Ducati terlihat sangat unik.

Jika semua desain fairing unik ini coba ditelaah, tak jauh-jauh dari pemanfaatkan aliran udara sekitar bodi motor untuk memberikan efek gaya tekan ke bawah atau yang lazim disebut downforce. Salah satunya yang paling radikal adalah desain yang diujicoba Ducati di sesi tes resmi MotoGP di Qatar.

Bentuknya seperti air vent di mobil Ferrari FXX Evoluzione. Tapi beberapa pendapat menegaskan bahwa ini menyalahi filosofi desain motor itu sendiri. Lantaran fairing dan windshield motor balap, tujuannya untuk membelah angin, agar tubuh pembalap tidak diterpa udara dan sistem aerodinamika jadi lebih baik.

Tapi dengan adanya bagian terbuka di sisi kiri kanannya, pola aliran udara diprediksi menerpa tubuh pembalap. Sehingga memungkinkan terjadinya turbulensi udara di bagian ini. Secara teori ini akan menurunkan efektifitas performa motor jika kecepatannya sudah berada di atas 150 km per jam.

Namun semua pendapat ini belum bisa dibuktikan, mengingat Ducati juga takkan mungkin membocorkan perolehan data yang mereka lakukan saat uji coba. Terutama jika melihat alur desainnya yang kemungkinan mengalihkan udara ke bagian atas bahu jika pembalap berada dalam posisi menunduk penuh.

Keuntungan lainnya adalah bisa membantu pembalap melakukan pengereman dengan cara menegakkan posisi tubuh di zona pengereman. Karena udara yang melalui ventilasi tadi, akan langsung menghantam tubuh pembalap. Tentang perbedaan data antara windshield terbuka (baru) dan windshield tertutup, tentunya bakal jadi rahasia Ducati selama itu belum digunakan. Dan ini bisa jadi solusi untuk tipe sirkuit yang pola aliran anginnya cukup kencang, seperti di Phillip Island, Australia.


(GUS)