Junior Mini Prix

Potong Jalur ke Balap Level Dunia, Perlu Jalur Khusus

Ahmad Garuda    •    Selasa, 12 Dec 2017 16:15 WIB
balap motor
Potong Jalur ke Balap Level Dunia, Perlu Jalur Khusus
Junior Mini Prix potong jalur ke penjenjangan balap dunia. medcom.id/Ahmad Garuda

Jakarta: Junior Mini Prix 2018, seperti angin segar untuk ajang pembibitan pembalap muda nasional menuju jenjang balap dunia. Mengingat belum ada ajang kejuaraan balap yang benar-benar membawa karakter motor tipe sport sesungguhnya mulai dari cc paling kecil.

Namun yang paling menyegarkan lagi adalah target dan penjenjangan balap dari motor dimensi kecil yang biasa disebut pocket bike itu, ke ajang balap dunia. Menurut Managing Director Quickpro (Promotor Event), A Rezky Wijayanto kepada medcom.id, bahwa mereka ingin percepatan pembalap berprestasi asal Indonesia ke ajang balap dunia.

"Kita bisa lihat pembalap dunia seperti Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Marc Marquez dan yang lainnya, mereka mulai menjalani karir balap dari mini/pocket bike. Latihan pun menggunakan motor tipe itu, sehingga karakter, feeling serta pemahaman mereka sudah terpatri sejak dini tentang balap tipe motor sport. Nah di kita, malah dimulai dengan motor bebek. Dari awalnya saja kurang tepat," klaim Rezky di Restoran Sulawesi, Kemang-Jakarta Selatan pada Sabtu (9/12/2017).

Pria ramah itu menyebutkan bahwa, kebanyakan penjenjangan pembalap yang ada sekarang ini membuat sulit pembalap itu sendiri. Karena mereka terbiasa menggunakan motor balap tipe bebek lalu disuruh lompat ke motor berkarakter murni sport, ini akan butuh waktu.

"Bisa kita lihat, usia 15 tahun baru mau bermain di kelas balap bebek nasional. Sementara pembalap Eropa sudah mulai menapak karir di balap kelas prototipe sport seperti Moto3 lokalan di negaranya atau lintas negara. Hal inilah yang ingin kami lakukan di Indonesia. Memotong jalur pembibitan pembalap ke level dunia. Tentang penjenjangannya, kami juga sudah pikirkan. Target kami mereka bisa langsung berlaga di ajang balap seperti Asia Talent Cup yang merupakan penjenjangan ke balap MotoGP."

Rezky melanjutkan bahwa saat ini pilihan karir balap, hanya ke ajang balap nasional yang masih menggelar kelas bebek. Jika pun alumnus dari ajang balap ini banyak yang menuju ke sana dengan iming-iming penghasilan memadai, maka itu adalah pilihan pembalapnya. "Kami hanya menyediakan wadah dan program khusus untuk penjenjangannya."

Sebagai bentuk keseriusan promotor, mereka akan berupaya konsisten menyelenggarakan ajang balap ini nantinya sebagai program jangka panjangnya. Meski minim sponsorship pada awalnya, tapi jika hasilnya memang bisa membawa balap itu ke ajang dunia, mereka percaya sponsor bakal mulai berdatangan.


(UDA)