Kecelakaan Lalu Lintas

Pemahaman Risiko Berkendara Masyarakat Indonesia Masih Lemah

Ekawan Raharja    •    Kamis, 13 Oct 2016 16:22 WIB
kecelakaan lalu lintas
Pemahaman Risiko Berkendara Masyarakat Indonesia Masih Lemah
Anak berusia di bawah 17 tahun sangat berisiko mengendarai sepeda motor. MTVN/Ahmad Garuda

Metrotvnews.com, Jakarta: Melihat anak-anak di bawah 17 tahun mengendarai sepeda motor merupakan hal lumrah di Indonesia. Anehnya, mereka memiliki kesempatan berkendara motor karena mendapatkan restu dari orang tua.

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, mereka berpotensi menimbulkan kecelakan akibat kurang kesadaran soal berkendara secara baik dan benar.

"Kognisi anak di bawah 17 tahun masih kurang. Kemampuan mereka mengkalkulasi kondisi jalanan, menganalisis, dan kesadaran untuk berkendara yang baik dan benar juga masih belum cukup," ucap Jusri Pulubuhu, Chief Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting saat dihubungi Metrotvnews.com, Rabu (12/10/2016).

Pria yang sudah 32 tahun menggeluti dunia safety driving tersebut menilai fenomena yang terjadi sekarang tak lepas dari pemahaman orang tua terhadap risiko kecelakaan yang lemah. Seharusnya, orang tua bisa mencegah anaknya untuk mengendarai sepeda motor.

Ilustrasi kecelakaan sepeda motor. MI/Ramdani

"Bentuk kepedulian masyarakat terhadap peraturan lalu lintas masih rendan. Saat ini, mereka patuh terhadap peraturan lalu lintas karena takut. Sedangkan di luar negeri patuh terhadap peraturan lalu lintas karena bagian dari kebutuhan," sambungnya.

Ada satu hal krusial yang harus diketahui para orang tua. Bahwasannya, kecelakaan saat berkendara bisa memberikan kerugian ekonomi. 

Fakta itu dipaparkan penelitian yang dilakukan Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI). Dari penelitian itu, tercatat sebanyak 86 persen keluarga yang pernah ada anggota keluarganya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga cacat langsung krisis finansial.  

"Jika ayah yang menjadi tulang punggung keluarga mengalami kecelakaan dan kemudian cacat, keluarga tersebut tidak memiliki pemasukan dan mengalami krisis finansial. Skenario itu jika yang mengalami kecelakaan adalah ayah. Andai terjadi kepada anak lalu kemudian dirawat di rumah sakit, orang tua harus menanggung biaya besar," tegas Jusri.

Harapannya, seluruh lapisan masyarakat Indonesia mulai mengkampanyekan berkendara secara baik dan benar. Dengan begitu, publik lebih sadar untuk tertib berlalu lintas di jalan raya.

"Lakukan sosialisasi keselamatan berkendara ke seluruh lapisan masyarakat. Jika perlu hingga ke sekolah dasar. Anak bisa menjadi polisi di dalam keluarga. Setelah itu, anak dapat mengingatkan orang tuanya untuk tertib berlalu lintas," tutupnya.


(HIL)