Industri Otomotif

Tanggapan Konsumen Yamaha dan Honda Terkait Kasus Kartel

Ekawan Raharja    •    Selasa, 07 Mar 2017 15:05 WIB
kartel harga motor
Tanggapan Konsumen Yamaha dan Honda Terkait Kasus Kartel
Beragam pendapat dikemukakan oleh konsumen Yamaha dan Honda. Honda

Metrotvnews.com, Jakarta: Tersangkutnya Yamaha dan Honda dengan kasus kartel skuter matik (skutik) 110-125 cc banyak menarik perhatian. Termasuk dari konsumen Yamaha dan Honda yang juga memperhatikan kasus kartel yang menimpa kedua pabrikan sepeda motor itu.

Konsumen Yamaha sejak tahun 1980-an, Achobule, mengaku mengetahui kasus kartel yang menimpa Yamaha dan Honda. Namun dia sebagai konsumen merasa tidak ada masalah dengan adanya kasus tersebut.

"Sudah mendengar tapi saya pribadi tidak merasa terganggu. Yang terganggu mungkin pemerintah karena ini bisa bertentangan dengan program pemerintah yang sedang menggalakan investasi di Indonesia," tulisnya melalui pesan singkat Selasa (7/3/2017).

Pria yang memiliki Mio sejak 2008 ini mengaku tidak percaya jika Yamaha dan Honda melakukan kartel. Bahkan dia tetap percaya dengan Yamaha sebagai merek yang besar, unggul, dan dapat dipercaya. 

"Walau berita-berita di media sifatnya kadang provokatif, buat saya pribadi dan para konsumen yang cerdas tidak percaya adanya kartel begitu," tambah Achobule.

Pria yang gemar touring ini berharap Yamaha terus melahirkan produk-produk dengan kualitas terbaik untuk konsumen.

Namun tanggapan lain diutarakan oleh Riezdiyan Sofyani sebagai pengguna Honda BeAT. Dia sebagai konsumen merasa terganggu dengan adanya kasus tersebut. Riezdiyan menilai jika Yamaha dan Honda benar melakukan kartel, maka akan merugikan konsumen.

"Ya mungkin dari masalah harga cicilan. Kalau sekarang mencicil BeAT tenor 2 tahun bisa hampir Rp20 juta," tulis Riezdiyan melalui pesan singkatnya Senin (6/3/2017).

Riezdiyan sudah memiliki BeAT sejak 2008. Dia memilih BeAT karena dia merasa sepeda motor ini paling nyaman dan irit untuk kesehariannya.

Riezdiyan berharap kasus ini segera selesai. Supaya konsumen tidak merasa terganggu dengan adanya kasus tersebut.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan PT Astra Honda Motor (AHM) terbukti melanggar Pasal 5 Ayat (1) UU 5/1999 tentang praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dalam industri skuter matik 110 dan 125 CC di Indonesia. Kepada Yamaha KPPU menetetapkan denda sebesar Rp 25 miliar, sedangkan kepada Honda KPPU membebankan denda yang harus dibayarkan sebesar Rp 22,5 miliar.

Atas putusan tersebut, Yamaha berencana mengajukan keberatan. Namun pihak Yamaha belum memutuskan langkah yang akan diambil berikutnya, sebab masih menunggu putusan KPPU secara lengkap.


(GUS)