Balap Motor

Cabor Balap Motor Dihapus dari PON?

Ahmad Garuda    •    Selasa, 04 Dec 2018 06:26 WIB
balap motor
Cabor Balap Motor Dihapus dari PON?
Balap motor dihilangkan dari Pekan Olahraga Nasional? Yamaha

Jakarta: Cabang olahraga balap motor dihapus dari Pekan Olahraga Nasional (PON), lantas mengundang tanda tanya. Mengingat olah raga otomotif yang satu ini adalah cabang yang paling realistis untuk dipertandingkan. Bukan hanya dari sisi pembalap namun juga para pendukung dan sarananya.

Fakta ini mendapat sorotan tajam Ketua Pengurus Daerah Ikatan Motor Indonesia (IMI) DKI Jakarta, Anondo Eko saat berbicara di sela-sela waktu luangnya. Apalagi dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), terdengar bahwa ajang balap pengganti balap motor yaitu Grasstrack dan Slalom.

"Saya sebenarnya kurang percaya dengan adanya wacana soal balap motor tidak digelar lagi. Mengingat ajang balap motor, apalagi motor bebek inilah yang cukup ramai dilakukan dalam olahraga otomotif nasional. Artinya lebih merata dan bisa diadu antar satu daerah dengan daerah yang lain. Hampir semua daerah di Indonesia punya pembalap motor kok!" seru Anondo Eko.

Alasan lain yang membuat Anondo Eko menyesalkan dihilangkannya ajang balap motor dari PON, dipengaruhi banyak hal bukan hanya dari sisi pembalap saja. Namun juga dari pendukung balapan seperti brand yang bisa ikut serta, lalu mekanik dan orang yang terlibat lebih terstruktur.

Sponsor pendukung pun bisa masuk karena banyak yang punya kepentingan untuk tipe motor yang dilombakan seperti dulu waktu Jupiter Z dan MX didaulat jadi motor resmi balap PON.  

Justru yang membuat Anondo jadi heran karena ajang Grasstrack dan Slalom justru didaulat sebagai ajang balap pengganti balap motor di PON.

"Grasstrack itu kan ajang balap motor-motor biasa yang diubah atau dimodifikasi jadi motor trail. Katakanlah ada produsen motor trail yang memang mau memasok motor ini, tapi jumlahnya pasti tidak akan banyak. Mengingat motor trail apalagi special engine, harganya cukup mahal. Lalu dari sisi bisnis, motor ini juga takkan punya dampak besar dari sisi penjualan, karena segmentasinya sangat sempit. Buat yang hobi saja dan mayoritas kroser yang ada malah dari Jawa Barat."

Tidak berbeda dengan Grasstrack, masalah yang sama juga akan sama untuk ajang slalom. Tapi masalahnya lebih kepada peserta slalom. Menurut Anondo, mayoritas peslalom unggulan, justru berasal dari Jawa.

"Masa iya pemenangnya ya itu-itu lagi. Peserta dari luar Jawa justru bisa dihitung jari. Itu pun sangat jarang mereka tampil sebagai peslalom di kategori pro. Menurut saya ini sangat tidak masuk akal. Menurut saya, sebaiknya penyelenggara mengkaji ulang tentang hal ini."


(UDA)