Klarifikasi Pertamina

Takaran Bensin SPBU Bungur jadi Sorotan Netizen

Ekawan Raharja    •    Jumat, 02 Jun 2017 07:19 WIB
pertamina
Takaran Bensin SPBU Bungur jadi Sorotan Netizen
Beldy mengeluhkan takaran di SPBU Bungur Raya tidak sesuai dengan semestinya. Beldy.

Metrotvnews.com, Jakarta: Beberapa waktu lalu dunia maya diramaikan oleh keluhan konsumen Pertamina. Keluhan tersebut berisi dugaan SPBU Pertamina 34.10604 Bungur Besar, melakukan kecurangan terhadap takaran bensin.

Ketidakpuasan ini disuarakan Beldy Risyan Hukom melalui akun facebok-nya. Kejadian ini berlangsung 30 Mei 2017 pukul 15.30 WIB.

Dia membeli sebanyak empat liter bensin untuk Yamaha Nmax miliknya. Usai pengisian, dia merasa tidak yakin jumlah yang didapatnya sudah benar.

"Benar saja, saat selesai pengisian, saya melihat ukuran tangki saat di isi beda. Tidak seperti biasanya, dan saat menyalakan mesin indikator bensin tidak full masih kosong satu batang," tulisnya melalui akun jajaring sosial tersebut.

Beldy yang tidak yakin, akhirnya berinisiatif memeriksa takaran bensin yang ada di sepeda motornya dengan cara menyedot bensin dari tangki. Setelah dikeluarkan dan dipindahkan ke dalam ember, dia menghitung hanya mendapatkan tiga liter bensin.

Celotehan Beldy ini ramai dan viral di dunia maya. Tidak sedikit para netizen yang pro dan kontra terhadap keluhan Beldy.

Protes ini langsung mendapatkan respon dari PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III. Bahkan mereka sudah mengeluarkan klarifikasi resmi terkait ketidakpuasan yang dialami Beldy.

Berikut enam poin klarifikasi yang dikeluarkan oleh PT Pertamina MOR III:

1. Pada Selasa (30/5) Pukul 15.30 WIB saudara Beldy Risyan Hukom (pengendara Motor Yamaha Nmax) melakukan pembelian BBK jenis Pertamax di SPBU 34.106.04 Jalan Bungur, Jakarta, pada Nozzle 16.2 sebanyak 4 Liter. Setelah selesai melakukan pembelian Pertamax, saudara Beldy merasa takaran dari SPBU kurang.

2. Saudara Beldy melakukan komplain kepada operator, lalu diarahkan kepada pengawas SPBU mengingat antrian pengendara motor yang cukup panjang.

3. Saudara Beldy meminta kepada pengawas agar tangki BBM motor dikuras untuk mengetahui jumlah BBM yang diisi kedalam motor. Pengurasan tangki BBM Motor dilakukan hanya menggunakan selang dengan cara disedot secara manual, sehingga BBM yang dikeluarkan tidak seluruhnya, karena tersisa 1 Bar berdasarkan permintaan saudara Beldy untuk disisakan seperti kondisi awal sebelum dilakukan pengisian BBM. Kondisi BBM 1 Bar ini tidak dapat dipastikan berapa liter BBM yang tersisa secara akurat. Sebagai informasi, kapasitas tangki kendaraan tersebut adalah 6,6 Liter.

4. BBM yang dikuras ditampung di wadah, kemudian dihitung hanya dengan menggunakan gelas ukur. Volume diperoleh adalah sekitar tiga Liter. Setelah melakukan pengukuran tersebut, pengawas SPBU langsung mengganti kekurangan BBM dengan memberikan BBM dari Pertamax kemasan. Selesai mendapat penggantian, saudara Beldy meninggalkan SPBU.

5. Berdasarkan kejadian tersebut, tim Pertamina telah melakukan pengecekkan takaran seluruh volume Nozzle, pengecekkan mesin dispenser, pemeriksaan CCTV SPBU saat terjadi kejadian, Laporan arus minyak SPBU. Hasil pengecekkan takaran menunjukkan seluruh Nozzle di SPBU masih memenuhi standar toleransi Metrologi 0,5 persen dan standar Pasti Pas 0,3 persen. Selain itu tidak ditemukan adanya tanda-tanda modifikasi di mesin dispenser. Dispenser tersebut sebelumnya sudah di-Tera oleh Dinas Metrologi.

6. Dari seluruh konsumen pengendara motor yang melakukan pengisian BBM di SPBU tersebut, hanya saudara Beldy yang melakukan komplain. Padahal semua prosedur pengisian BBM telah dilakukan sesuai standar yang sama kepada semua konsumen. 


Tentu saja kejadian ini bisa diambil hikmahnya bagi seluruh pengguna kendaraan bermotor di Indonesia untuk selalu memperhatikan saat pengisian bahan bakar minyak. Jika merasa tidak sesuai dengan takaran yang diberikan, konsumen bisa melakukan pengaduan ke pihak terkait dan segera meminta pemeriksaan melalui prosedur yang sudah ditetapkan.




(UDA)