8 Hal yang Perlu Diketahui tentang Organ Vital Pria

Adi Waluyo    •    Sabtu, 02 May 2015 15:15 WIB
kesehatan
8 Hal yang Perlu Diketahui tentang Organ Vital Pria
Foto: ctnaturalhealth.com

Metrotvnews.com: Bagi sebagian besar orang, pelajaran tentang organ vital manusia diperoleh dari mata pelajaran Biologi di kelas, yang akan terhenti ketika ia lulus SMA.

Kecuali bila mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kedokteran, praktis pengetahuan mereka soal organ vital, yang selalu dipakai setiap hari, hanya bersandar dari pengetahuan mereka di sekolah menengah.

Pada pria, pengetahuan tentang alat kelaminnya menjadi penting, karena selain bisa lebih hati-hati dalam merawatnya, juga untuk menghindari beberapa penyakit seksual dan apa yang harus dilakukan ketika mengalaminya.

Berikut adalah beberapa informasi penting tentang penis yang perlu diketahui:

1. Rata-rata panjang penis yang sedang ereksi adalah 3,9 inci
Dr Pankaj Maheshwari, kepala urologi di Rumah Sakit Fortis Mulund mengatakan, bahwa bukan panjang tapi ketebalan yang penting, "Pada wanita, ujung saraf yang mengirimkan 'sinyal kenikmatan' lebih dekat ke lubang vagina, sehingga bahkan dengan penis pendek pria dapat melakukan seks dengan baik," katanya.

Penis berhenti tumbuh setelah usia 17 tahun. Operasi bedah, menurut Dr Maheshwari, dibutuhkan hanya pada pasien yang menderita Micro Penis - yang disebabkan masalah hormonal atau cacat dalam perkembangan tubuh.

"Setiap orang dewasa yang penisnya ketika ereksi kurang dari 6-7 cm panjangnya, dapat dikatakan memiliki penis mikro," imbuhnya. Ia menjelaskan, bahwa jika orang itu gemuk atau memiliki obesitas, kemungkinan timbunan lemak di daerah kemaluan dapat 'mengubur' penis. Di sini, penurunan berat badan dapat mengatasi masalah tersebut.

2. Priapism terjadi pada ereksi yang menyakitkan
Ini adalah kondisi di mana penis tidak kembali ke keadaan lembeknya, meskipun tidak ada rangsangan baik fisik dan psikologis, dalam waktu empat jam. Kondisi ini disebabkan karena darah di penis terjebak dan tidak mampu mengalir. Jika kondisi ini tidak segera diobati, dapat menyebabkan jaringan parut dan disfungsi ereksi permanen.

Beberapa kasus priapism adalah hasil dari anemia sickle-cell. Bahkan obat yang digunakan untuk mengobati depresi dapat memiliki efek yang sama. Penyebab lainnya, trauma pada saraf tulang belakang atau daerah genital, gigitan laba-laba black widow, keracunan karbon monoksida dan penggunaan obat-obatan terlarang seperti ganja dan kokain.

3. Bagian-bagian terpenting penis
Uretra adalah saluran yang memungkinkan urin untuk keluar dari tubuh; vas deferens adalah saluran berotot kecil di penis yang membawa sperma dari epididimis ke saluran ejakulasi; dan kelenjar Cowper adalah sepasang kelenjar eksokrin yang proses sekresinya membantu melindungi sperma saat melewati uretra.

4. Penis bisa 'patah'
Meskipun penis tidak memiliki tulang, tapi bukan tidak mungkin 'patah'. Cedera yang disebut fraktur penis ini terjadi ketika penis yang sedang ereksi tiba-tiba bengkok. Anda akan tahu kapan hal itu terjadi, karena Anda akan mendengar derak suara sebelum mengalami sakit yang luar biasa dan pembengkakan yang diikuti oleh memar biru di daerah penis.

Jika uretra robek, Anda akan melihat pendarahan pada saluran kemih. Hal ini menyebabkan sobekan pada membran tunika albuginea yang menjadi 'selimut' dari inti organ - daerah yang berperan dalam ereksi. Selama ereksi, terjadi 'banjir' darah ke penis, dan dengan munculnya sobekan berarti darah dapat meresap ke dalam jaringan sekitarnya. Pencegahan terbaik adalah dengan berhati-hati ketika terlibat dalam 'permainan' yang agresif.

5. Normal untuk memiliki penis melengkung
Penis yang sedikit melengkung dapat dikatakan normal. Selama tidak ada rasa sakit atau masalah dalam performa seksual, pria dengan penis sedikit melengkung tidak perlu khawatir. Namun, lengkungan tegas yang mengganggu fungsi seksual atau menyebabkan nyeri, merupakan pertanda dari penyakit Peyronie. Ini kadang-kadang terjadi setelah penis terluka.

Peradangan dan bekas luka membentuk jaringan Peyronie sepanjang batang penis. Ini mungkin dipicu oleh trauma ringan berulang selama hubungan seksual. Jika hal ini terjadi, konsultasikan dengan ahli urologi.

6. Ada 3 jenis ereksi
Ereksi psikogenik disebabkan oleh indra, visual, rangsangan pendengaran atau fantasi. Ereksi nokturnal terjadi selama fase tidur. Ereksi reflexogenic adalah ereksi yang disebabkan oleh stimulasi genital.

7. Disfungsi ereksi dapat terjadi pada usia di bawah 40 tahun
Disfungsi ereksi terjadi ketika seorang pria tidak bisa lagi mendapatkan atau mempertahankan ereksi untuk melakukan hubungan seksual. Tidak perlu khawatir bila kesulitan ereksi sewaktu-waktu. Tapi jika terus berlanjut, Anda harus berkonsultasi ke ahli.

Berbagai faktor - stres, diabetes, penyakit jantung, obesitas, obat resep tertentu, merokok - dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Penelitian di dua universitas di Italia pada 2013 menunjukkan, bahwa dari 439 pasien disfungi ereksi, 26 persen-nya berusia di bawah 40 tahun.

8. Sunat dapat dijalani pada usia berapa pun
Dr Maheshwari mengatakan, tidak ada usia 'terbaik'untuk menjalani sunat. Bagi banyak orang itu adalah ajaran agama atau keinginan pribadi. Namun ada kasus ketika sunat disarankan karena kondisi medis.

Phimosis adalah suatu kondisi di mana kulup (foreskin) tidak menarik saat ereksi karena menempel ketat, dan pada bagian valanoposthitis ada infeksi kulup dan glans, inilah yang membuat sunat amat dianjurkan. (Times of India)


(AWP)