Pengamat Sosial: Perdebatan dalam Suksesi Keraton Itu Wajar

Patricia Vicka    •    Rabu, 06 May 2015 15:28 WIB
keraton yogyakarta
Pengamat Sosial: Perdebatan dalam Suksesi Keraton Itu Wajar
Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X keluar dari Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta seusai mengeluarkan sabda raja atau perintah raja di Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta, Yogyakarta, Senin (5/5/2015). Foto: Antara/Andreas

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Polemik di antara keluarga keraton terus terjadi pasca Sri Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan dua Sabda Raja. Namun, perbedaan pendapat di antara keluarga keraton adalah suatu hal yang wajar di negara demokrasi.

Pengamat politik dan sosial dari Universitas Gajah Mada, Erwan Agus Putranto, mengatakan perdebatan publik yang terjadi akibat adanya sebuah keputusan dianggap hal yang wajar dalam negara demokrasi.

"Tentu saja setiap perubahan, sekecil apapun akan menimbulkan perdebatan. Terkait dengan pengangkatan GKR Pembayun inipun akan begitu, terutama keluarga besar kraton. Namun nampaknya masyarakat cepat atau lambat akan menerimanya," ujar Erwan melalui pesan singkat kepada Metrotvnews.com di Yogyakarta, Rabu (6/5/2015).

Dekan Fisipol UGM ini juga menegaskan sabda seorang raja memiliki kekuatan hukum tertinggi dalam tradisi kerajaan.

Pemberian gelar dan pengangkatan GKR Pembayun sebagai GKR Mangkubumi, sudah dapat dia prediksi sebelumnya. Karena Sri Sultan HB X telah memberi pertanda dalam Sabda Raja pertama.

"Pengangkatan GKR Pembayun merupakan kelanjutan dari sabda raja tempo hari. Dalam sabda raja tersebut memang mengindikasikan Sultan HB X memaklumkan tiga perubahan mendasar terkait dengan posisi sultan dan calon penerusnya. Dalam perubahan tersebut membuka ruang dimungkinkannya seorang putri menjadi penerus Sultan HB X," kata dia.
 


(BOB)