Impor Beras Butuh Hitungan Masak

Arif Hulwan    •    Selasa, 12 May 2015 11:21 WIB
beras
Impor Beras Butuh Hitungan Masak
Ilustrasi. MI/Immanuel Antonius

Metrotvnews.com, Jakarta: Adanya opsi impor beras dalam perundangan tak serta-merta hal itu bisa dilakukan dengan mudah. Pertimbangan matang dari kementerian dan lembaga terkait mesti dilakukan terlebih dahulu.

"Sampai hari ini kebijakannya tidak impor beras. Kalau ada keharusan untuk itu maka membutuhkan pertimbangan yang sangat dalam dan serius yang disampaikan oleh Bulog, Kemendag, Kementan, dan Kementerian (Koordinator Bidang) Perekonomian. Tapi sampai hari ini arahan Presiden sama, tidak impor," tutur Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, di Jakarta, seperti dikutip Selasa (12/5/2015).

Opsi impor beras itu sendiri ada pada Instruksi Presiden (Inpres) No 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah. Tujuan peraturan itu sendiri adalah untuk menjaga stabilisasi ekonomi nasional, melindungi tingkat pendapatan petani, dan stabilitasi harga beras.

"Di salah satu ayatnya sudah dimunculkan antisipasi kalau seandainya (impor) itu dibutuhkan," tukas Andi.

Pemerintah, kata dia, masih menghitung pula kecukupan cadangan beras di gudang Bulog. Terutama dalam menghadapi bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, panen masih berlangsung di sejumlah daerah.

"Karena masih proses panen raya, jadi laporannya terus menerus di-update. Kira-kira nanti sampai akhir bulan ini, untuk tahu ketersediaan stok untuk mengantisipasi (kebutuhan di bulan) puasa dan Lebaran," cetusnya.

Mengenai rencana penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengendalian Harga Kebutuhan Pokok dan Kebutuhan, Andi menyebut, itu baru akan dibahas usai kepulangan Jokowi dari lawatannya ke Maluku, Papua, dan Papua Nugini, pekan ini. Dia pun mengaku belum bisa menyebut sejumlah poin perpres itu.

"Sebelum Presiden ke Papua, itu sudah disampaikan oleh Seskab ke Presiden, hanya belum sempat dibahas. Jadi masih di meja Presiden menunggu arahan Presiden lebih lanjut," pungkasnya.


(WID)