Konflik Mega-SBY

Anas: Sulit Menemukan Obat Penawar Kemarahan Megawati

Tri Kurniawan    •    Selasa, 12 May 2015 19:19 WIB
sbymegawati
Anas: Sulit Menemukan Obat Penawar Kemarahan Megawati
Megawati saat suaminya Taufiq Kiemas wafat, Minggu 9 Juni 2015. Antara Foto/Widodo S. Jusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Susilo Bambang Yudhoyono gagal mendatangkan Megawati Soekarnoputri di Kongres IV Partai Demokrat di Surabaya, Jawa Timur. Padahal, menurut mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum kehadiran Megawati akan jadi peristiwa politik penting.

"Di balik proses kongres yang dirancang datar dan monoton, sejatinya Pak SBY berharap ada peristiwa politik penting," kata Anas seperti ditulis admin di Twitter @anasurbaningrum, Selasa (12/5/2015).

SBY mengirim utusan ke rumah Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, untuk mengundang putri Soekarno itu hadir ke Kongres ke-IV. Megawati menolak secara halus. Dia lantas membalas undangan itu dengan juga mengirim utusan.

Anas melanjutkan, publik akan mengartikan Megawati sudah berdamai dengan SBY jika hadir di arena kongres. "Kehadiran Bu Mega akan menjadi warna terhebat dari kongres yang datar itu," tambahnya.

Terpidana kasus korupsi itu menilai, usaha SBY berdamai dengan Megawati harus dihargai. Tapi di balik penolakan halus, Anas mengartikan sulit untuk mencari obat penawar kemarahan Megawati.

Anas mendukung perdamaian SBY-Megawati. Dia menyarankan SBY terus melancarkan pendekatan 'bawah tanah' karena dinilai lebih efektif. Tak ada salahnya, SBY sebagai junior mengunjungi Megawati ke Teuku Umar.

"Kalau Bu Mega dihadirkan di forum Demokrat dan dipamerkan ke publik, rasanya sukar dipenuhi," menurutnya.

Dia mengatakan, tak mustahil SBY suatu hari nanti berkunjung ke Teuku Umar. Saat ini, menurut dia, keputusan Megawati mengirim utusan ke Kongres Demokrat sudah balasan pantas dan sepadan.

"Sungguh banyak yang suka kalau Bu Mega dan Pak SBY suatu saat berdamai."


(TRK)