Kronologi Kasus Orangtua 'Usir' Anak Terungkap

Tri Kurniawan    •    Jumat, 15 May 2015 16:42 WIB
penelantaran anak
Kronologi Kasus Orangtua 'Usir' Anak Terungkap
Rumah Utomo Pernomo di Perumahan Citra Gran Cibubur diberi garis polisi, Kamis 14 Mei 2015. Foto: MI/Gana Buana

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia mendapat informasi ada kasus penelantaran anak di Cibubur pada Rabu 13 Mei malam. Sekjen KPAI Erlinda mengaku saat itu berada di Padang, Sumatera Barat.

Dia meminta bantuan ke anggota KPAI yang lain untuk menindaklanjuti informasi itu melalui pesan singkat. Ternyata, pesan singkat Erlinda tidak terkirim.

"Saya koordinasi dengan pak RT setempat, pak RT oke Kamis pukul 09.00 kami ke lokasi," kata Erlinda kepada Metrotvnews.com, Jumat (15/5/2015).

Sepulangya dari Padang, Kamis 14 Mei, Erlinda berusaha ke lokasi di Perumahan Citra Gran Cibubur. Dia juga koordinasi dengan tim Kementerian Sosial, Dinas Sosial.

Gayung bersambut. Erlinda dengan dukungan penuh dari Kemensos, Dinas Sosial, dan ketua RT setempat berangkat ke rumah pasangan Utomo Pernomo-Nurindria Sari di Perumahan Citra Gran Cluster Nusa II Blok E nomor 37, Cibubur, Pondok Gede, Bekasi.

"Kami awalnya hanya ingin berbicara dengan orangtua dari hati ke hati. Kami ingin membuka hati beliau untuk tidak lagi semacam itu. Jadi hanya mediasi saja, tidak ada hal lain," terangnya.



Utomo Pernomo. Foto: MTVN/Husen Miftahudin

Tapi saat tiba di lokasi, apa yang Erlinda dan tim lihat di luar perkiraan. Utomo menelantarkan lima anaknya selama bertahun. Putranya usia delapan tahun inisial D diusir dan tidur di pos jaga perumahan. D tidak diberi makan dan pendidikan.

Erlinda mengantongi bukti foto D tidur di pos jaga. Kondisi di dalam rumah Utomo berantakan. Sampah terlihat di mana-mana. Piring kotor menumpuk. Mana pakaian yang kotor atau bersih sudah tidak jelas. "Ini sudah di luar normal," tegasnya.

Niat Erlinda dan tim bicara baik-baik dibalas Utomo dengan perlawanan. Bahkan, Utomo sempat mengancam dan mengeluarkan kata-kata kasar ke Erlinda dan tim.

"Kami katakan ini tidak baik. Kami saja diperlakukan seperti ini, apalagi anak-anaknya," terang Erlinda.

Erlinda kemudian koordinasi dengan aparat polsek dan polres setempat untuk mengamankan kedua orangtua itu. Erlinda khawatir ada hal-hal yang membahayakan jika tidak melibatkan polisi.

"Kami amankan anak-anak, polisi handle ayahnya. Kemudian diputuskan rumah itu digeledah," terangnya.

Sekitar pukul 12.30 WIB, Tim Jatanras Polda Metro Jaya datang ke lokasi kejadian. Aparat Polda Metro Jaya tahu ada kasus penelantaran anak di Cibubur dari media sosial. Erlinda makin pede karena full team.

"Kurang lebih pukul 13.00 WIB, kami lakukan pendekatan ke ibunya, tapi sempat menolak. Ibunya malah bertindak mengkhawatirkan karena ada teriakan," katanya.

Perempuan kelahiran Palembang itu mendapat informasi dari warga bahwa rumah Utomo berantakan selama bertahun-tahun. Namun, Utomo menelantarkan anaknya sejak enam bulan lalu. Utomo sempat sadar, ia menerima D pulang ke rumah.

Dua bulan lalu, sikap Utomo berubah. D kembali diusir dari rumah. "Kalau anaknya dibantu warga, ayahnya malah marah-marah," tukasnya.




Berbulan-bulan peristiwa miris itu terjadi, tak satu pun warga melapor ke polisi atau lembaga berwenang lainnya. Mereka merasa masih bisa mengatasi malah itu. Menurut Erlinda, tetangga Utomo punya toleransi tinggi.

Warga angkat tangan ketika Utomo kembali mengusir D. Pendekatan ke Utomo dan istri tidak berhasil. Utomo malah mengatakan dia berhak mengurus anaknya dengan caranya sendiri. Warga menyebarkan kejadian ini melalui media sosial.

Erlinda mengaku tahu masalah ini dari media sosial. "Jadi laporannya tidak langsung ke KPAI, tapi broadcast ke media sosial karena warga sudah tidak kuat," paparnya.


(TRK)