Pasar Johar, Bangunan Berbentuk Cendawan yang Ludes Dimakan Api

Deo Dwi Fajar Hari    •    Jumat, 15 May 2015 19:21 WIB
kebakaran
Pasar Johar, Bangunan Berbentuk Cendawan yang Ludes Dimakan Api
Kondisi terkini Pasar Johar Semarang setelah terbakar, Metrotvnews.com/ Deo Dwi Fajar Hari

Metrotvnews.com, Semarang:  Pasar Johar merupakan satu di antaranya banyak bangunan tua di Semarang, Jawa Tengah. Tapi api menghanguskan bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda itu. Bagian dalam maupun luarnya luluh lantak.

Konon, banyak pohon johar pemberian Sunan Pandanaran di kawasan tersebut. Pada 1860, banyak pedagang yang menjual barang di sekitar penjara di alun-alun Kota Semarang. Lokasi penjara tak jauh dari deretan pohon johar itu.

Kemudian, jumlah pedagang bertambah. Pohon-pohon johar ditebang lalu dibangun kios-kios untuk pedagang. Penjaranya pun dibongkar karena Kolonial Belanda berencana membangun Kotapraja menjadi kota modern pada 1931.

"Pasar kemudian didirikan dengan tujuan mempersatukan fungsi lima pasar yang telah ada yaitu Johar, Pedamaran, Beteng, Jurnatan, dan Pekojan," kata Sekretaris Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, Yunantyo,

Pada 1933, Belanda menunjuk Thomas Karsten untuk merancang bangunan pasar. Rancangan berubah-ubah. Hingga akhirnya, konstruksi bangunan berupa jamur pun disetujui.

Konstruksinya menyerupai cendawan. Pilar-pilarnya berbentuk jamur tinggi.

"Konstruksinya itu memang untuk daerah tropis, cocok di kawasan Semarang ini," kata Yunanto.

Pasar Johar dibangun mulai tahun 1938. Detail arsitekturnya yaitu terdiri dari empat blok bangunan. Bangunan tersebut memiliki kolom penyangga atap dengan struktur cendawan. Lantai dua pasar Johar hanya ada di bagian tepi dinding sedangkan tengahnya berupa void.


(Geliat ekonomi di Pasar Johar Semarang sewaktu api belum menghanguskan bangunan peninggalan Belanda itu, Metrotvnews.com/Deo Dwi Fajar Hari)

Pada konstruksi cendawan ada kolom persegi delapan di bagian atas yang menyangga atap yang dinamakan konstruksi mushroom. Atap berupa plat beton datar dengan pertinggian lubang ventilasi udara berbentuk segi enam.

"Pada lubang ada kaca untuk mengantisipasi air hujan masuk ke dalam pasar namun tetap mengupayakan cahaya matahari masuk. Kedalam pasar , dari sisi ini terlihat Efisiensi dari segi hemat energi. Konon Pasar Johar pernah tersohor sebagai pasar yang terbesar dan tercantik di Asia Tenggara." tegas Yunantyo.

"Itu ada di Buku Senarai Bangunan dan Kawasan Pusaka Kota Semarang yang diterbitkan Bappeda tahun 2006 di halaman C-103 sampai C-105," imbuhnya.

Bangunan Pasar Johar, lanjut Yunantyo, sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB)  sehingga perbaikan pasar Johar pasca kebakaran diharapkan bisa mengacu pada dokumen arkeologi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng.

"Renovasi seharusnya tetap seperti aslinya. ini bangunan pusaka sejarah," tegasnya.

Tapi pukul 20.00 WIB, Sabtu 9 Mei, api menghanguskan Pasar Johar, Yaik, dan sebagian bangunan Pasar Pedamaran. Ribuan kios dan barang dagangan hangus.

Uniknya, konstruksi dasar bangunan Kharsten masih kokoh berdiri. Pemerintah pun melakukan penelitian apakah konstruksi itu masih kuat sebagai dasar bangunan baru pascakebakaran.

"Kita lihat dulu nanti, kalau konstruksinya sudah tidak kuat direnovasi tapi tidak boleh meninggalkan desain aslinya,eman dan disayangkan kalau dirubah " kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mendatangi Pasar Johar, Kamis (14/5/2015).
 


(RRN)