Esok Presiden Jokowi Resmikan Terminal Teluk Lamong

Dimas Prasetyaning    •    Kamis, 21 May 2015 17:49 WIB
teluk lamong
Esok Presiden Jokowi Resmikan Terminal Teluk Lamong

Metrotvnews.com, Jakarta: Proyek revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dan pembangunan pelabuhan peti kemas Terminal Teluk Lamong telah selesai. Presiden Jokowi akan meresmikan penggunaannya pada Jumat esok.

“Kami bermaksud mengawali kebangkitan maritim Indonesia dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ini momentum yang tepat karena bertepatan dengan perayaan Hari Kebangkitan Nasional,” kata Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto dalam jumpa pers di Terminal Teluk Lamong, Surabaya (21/5/2015).

Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) adalah akses masuk ke kawasan Pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya. Akses ini diperdalam dan diperlebar dari sebelumnya minus 9,5 meter Low Water Sping (LWS) dan lebar 100 meter menjadi minus 13 meter LWS dan lebar 150 meter.

“Dulu hanya bisa dilalui kapal-kapal berukuran 15 ribu deadweight tonnage (DWT). Sekarang kapal-kapal mencapai 80 ribu DWT bisa masuk,” tambahnya.

Manfaat revitalisasi ini sangat dirasakan industri di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak. Pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik misalnya, sebelum revitalisasi kapal-kapalnya hanya mampu membawa fosfat 15 ribu ton. Kini, dengan alur yang memadai mereka dapat mendatangkan kapal-kapal bermuatan fosfat 60 hingga 80 ribu ton.

Tak hanya itu, kapal-kapal pengangkut petikemas yang selama ini hanya mampu mengangkut muatan 1.500 TEUs kini dapat membawa 3.000 TEUs. Kondisi ini tentunya akan berdampak pada daya saing logistik nasional yang berpengaruh pada harga jual barang ke konsumen.

“Dengan kondisi APBS saat ini, memungkinkan Pelabuhan Tanjung Perak membuka jalur pelayaran langsung menuju Tiongkok dan Eropa,” lanjut Djarwo.

Sementara itu untuk meningkatkan daya saing terminal peti kemas, Pelindo III membangun Terminal Teluk Lamong. Terminal ini dibangun sebagai perluasan dari Pelabuhan Tanjung Perak sekaligus sebagai solusi over capacity di pelabuhan terbesar kedua di Indonesia itu.

Terminal Teluk Lamong menggunakan sistem operasi otomatis demi menekan risiko kecelakaan dan ramah lingkungan pertama di Indonesia. Sebagian besar alat-alatnya digerakkan tenaga listrik dan gas. Hanya beberapa alat yang masih menggunakan bahan bakar minyak, itupun bahan bakar dengan standar EURO 4.

Tahap pertamanya berdiri di lahan seluas 40 hektar dengan kapasitas 500 ribu TEUs petikemas domestik dan 1 juta TEUs petikemas internasional. Terminal yang dibangun sejak 2010 ini juga akan melayani curah kering dengan standar pangan.

"Untuk curah kering akan siap tahun 2016 dengan kapasitas 5 juta ton,” jelas Direktur Teknik dan Teknologi Informasi Pelindo III Husein Latief.



 


(LHE)