Komisaris Pertamina Diperiksa KPK

Yogi Bayu Aji    •    Senin, 25 May 2015 12:31 WIB
kasus korupsi
Komisaris Pertamina Diperiksa KPK
Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) menemui Sahala Lumban Gaol (tengah) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin 27 Oktober 2014. Antara Foto/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Staf ahli Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Komisaris Pertamina Sahala Lumban Gaol dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dia akan dimintai keterangan dalam kasus dugaan suap pengadaan zat tambahan bahan bakar tetraethyl lead (TEL) di Pertamina pada 2004-2005.

"Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SAM (Suroso Atmomartoyo)," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2015).

Sebagai petinggi Pertamina, Sahala diduga tahu banyak bagaimana sepak terjak perusahaan pelat merah itu dalam kasus ini. Untuk itu, dia dipanggil sebagai saksi tunggal hari ini. "Keterangan dia dibutuhkan untuk pemberkasan kasus ini oleh penyidik," terang Priharsa.

Dalam kasus ini KPK telah menetapkan dua orang tersangka. Mereka adalah mantan Direktur Pengolahan PT Pertamina Persero Suroso Atmomartoyo dan Direktur PT Soegih Interjaya Willy Sebastian Lim.

Willy diduga mengalirkan uang suap dari perusahaan asal Inggris, Innospec, kepada dua mantan pejabat di Indonesia. Fulus diserahkan Willy kepada Suroso dan mantan Dirjen Minyak dan Gas Kementerian ESDM Rahmat Sudibyo.

Suap ini dimaksudkan agar TEL tetap digunakan dalam bensin produksi Pertamina yang kala itu dipimpin Ari Soemarno, kakak kandung Menteri BUMN Rini Soemarno.

Penggunaan bahan bakar bensin bertimbal itu tidak diperbolehkan lagi di Eropa dan Amerika Serikat karena membahayakan kesehatan dan lingkungan. Innospec pun pernah berperkara di pengadilan Southwark, Crown, Inggris pada 26 Maret 2010. Mereka dikenakan denda USD 12,7 juta.

Suroso ditetapkan menjadi tersangka pada November 2011. Ia dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau b dan atau Pasal 11 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor.

Sementara, Willy ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK pada 2 Januari 2012. Dia dianggap melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf a dan b, Pasal 13 UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor.

Willy dan Suroso telah ditahan KPK sejak 24 Februari lalu. Adapun Willy sudah disidang dan didakwa oleh jaksa penuntut umum KPK. Untuk Suroso, kasusnya masih dalam tahap penyidikan.


(TRK)