Usut Proyek Fiktif BUMN, Bareskrim akan Panggil Dahlan Iskan

Githa Farahdina    •    Jumat, 29 May 2015 14:54 WIB
kasus korupsi
Usut Proyek Fiktif BUMN, Bareskrim akan Panggil Dahlan Iskan
Bareskrim. Foto: BBC

Metrotvnews.com, Jakarta: Bareskrim Polri tengah mengusut adanya dugaan pencetakan sawah fiktif di Kalimantan Barat yang melibatkan sejumlah BUMN. Dalam penyelidikan kasus ini, Bareskrim berencana memanggil Dahlan Iskan.

Pemanggilan didasarkan waktu terjadinya tindak korupsi yang dilakukan rentang waktu 2012-2014. Dahlan saat itu menjabat Menteri BUMN.  

"Iya lah. Pasti lah beliau akan dipanggil untuk dimintai keterangan, dimintai pertanggungjawaban karena salah satu penanggungjawabnya kan beliau pada saat itu ya," kata Kabareskrim Komjen Budi Waseso di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2015).

Menurut Budi Waseso, penyidik perlu melihat hasil keterangan pemeriksaan saksi untuk mencari tahu posisi Dahlan dalam proyek fiktif ini. "Beliau posisinya sebagai apa nanti baru kita lihat setelah hasil pemeriksaan," tambah Budi.

Berdasarkan hasil laporan dan pengecekan di lapangan, terang dia, secara fisik sama sekali tak ada kegiatan pencetakan sawah di Kalimantan Barat. Namun ditemukan pencairan dana yang dialokasikan untuk proyek ini.

"Pengeluaran dana yang digunakan ada, tapi fisik wujud nyata yang di kegiatan yang dikerjakan itu tidak ada. Itu saja," kata Buwas.

Saat ini, pihak kepolisian terus memeriksa saksi dan mengumpulkan alat bukti. Sedangkan pihaknya belum mengetahui persis berapa kerugian negara akibat proyek bernilai Rp317 miliar ini.

"Kalau nilai kita belum bisa pastikan karena nanti setelah pemeriksaan kita lakukan penyitaan barang bukti. Setelah itu, mungkin baru kita bisa minta audit kepada BPK. Kerugian negara, nanti biar BPK yang menentukan itu," terangnya.

Proyek pencetakan sawah ini berlokasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Sejumlah BUMN terlibat dalam proyek patungan itu. Tercatat BNI, BRI, PT Asuransi Kesehatan, PT Pelindo, PT Hutama Karya dan PGN menginisiasi proyek itu.

Proyek dikerjakan PT Sang Hyang Seri. Namun perusahaan pembibitan plat merah itu mengalihkan lagi pengerjaan ke PT Hutama Karya, PT Indra Karya, PT Brantas Abipraya dan PT Yodya Karya.


(KRI)