Sembilan Tahun Lumpur Lapindo

Sambil Tunggu Ganti Rugi, Warga Korban Lumpur Lapindo Terpaksa Ngutang

Amaluddin    •    Jumat, 29 May 2015 18:31 WIB
lumpur lapindo
Sambil Tunggu Ganti Rugi, Warga Korban Lumpur Lapindo Terpaksa Ngutang
Patung memperingati semburan lumpur Lapindo, Metrotvnews.com/ Amaluddin

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Janji pemerintah untuk segera mencairkan dana talangan tak serta merta membuat warga korban lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur, bersuka cita. Sebab, warga merasa dana talangan itu tak sesuai dengan kerugian akibat rumah dan lahan pertanian mereka terendam lumpur sejak sembilan tahun lalu.

Dwi Purwaningsih, warga Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, mengaku ia memiliki rumah berukuran luas 105 meter persegi. Sebelum lumpur menerjang, ia tinggal bersama anak-anaknya di rumah itu. Baginya, bangunan itu tak sekadar rumah. Namun bangunan itu juga menjadi penghasilannya. Sebab ia membuka usaha dagang di rumah tersebut.

"Kalau ganti ruginya dihargai Rp300 juta, kita rugi. Karena rumah saya dulu itu juga buat buka usaha. Sementara ganti ruginya enggak cukup kalau hanya segitu. Apalagi kalau mau buat buka usaha enggak bakal cukup," kata ibu dua anak itu saat mengikuti acara peringatan sembilan tahun lumpur Lapindo, Jumat (29/5/2015).

Apalagi, kata dia, dana talangan ganti rugi kepada warga korban lumpur lapindo masih belum lunas. "Totalnya Rp300 juta, tapi yang baru dibayarkan baru Rp100 juta. Sementara sisanya masih kurang Rp200 juta," katanya.

Uang ganti rugi itu, kata Dwi, tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari. "Pertama, jika uang itu cair, kami harus membagi 6 dengan saudara ibu saya, karena tanah ini milik bersama. Jadi hasilnya harus dibagi dengan 6 saudara-saudara," tuturnya.

Dwi sudah punya rumah baru yang kini ditempati dirinya bersama keluarganya, yakni di Desa Wunut, Kecamatan Porong, persis sebelah barat Lumpur Lapindo.Namun ia berutang untuk menempati rumah baru itu.

"Saya harus melunasi rumah yang baru saya beli dari hasil utang. Belum lagi buat bayar hutang. Sementara jumlah ganti rugi hanya Rp300 juta. Untuk buka usaha saja tidak cukup. Sementara saya harus mengurus masa depan anak saya," keluhnya.

Surotin (45), warga Desa Siring, Kecamatan Porong, kabupaten Sidoarjo, juga mengalami hal serupa. Dia harus hidup susah tak menetap. Pasalnya dia harus hidup menumpang di rumah saudara-saudaranya untuk sementara waktu sambil menunggu pelunasan dana ganti rugi dari pemerintah.

Meski uang talangan ganti rugi terbilang besar, Surotin juga harus membagi dengan tiga saudaranya. Pasalnya, rumah yang dulu ditempatinya adalah tanah warisan orang tuanya.

"Jadi totalnya Rp900 juta, uang itu nanti dibagi tiga buat saya dan dua saudara saya karena tanah itu milik bersama warisan.


(RRN)