VolcASH Packed, Teknologi Penyerap Logam Berat Buatan Anak Indonesia

Pythag Kurniati    •    Rabu, 03 Jun 2015 17:08 WIB
teknologi
VolcASH Packed, Teknologi Penyerap Logam Berat Buatan Anak Indonesia
Dua siswa asal Solo yang membuat VolcASH Packed

Metrotvnews.com, Solo: Dua siswa asal Solo, Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan, memperkenalkan alat yang bisa menyaring limbah cair dengan menggunakan material alam abu vulkanik Gunung Kelud. Tak tanggung-tanggung, alat bernama VolcASH Packed itu berhasil menyabet juara empat dalam ajang Intel International Science And Engineering Fair 2015 di Amerika Serikat.

Awalnya, dua siswa SMAN 1 Solo itu mempelajari karakter abu vulkanik Gunung Kelud dengan gunung berapi lainnya. Semakin besar pori-pori abu vulkanik, akan semakin bagus digunakan. Selanjutnya mereka melakukan proses aktivasi yakni dengan metode fisika dan kimia dengan mikroskop elekton. Abu vulkanik yang telah diaktivasi mengalami pembesaran pori-pori dan membentuk gugus dan membentuk gugus fungsi aktif untuk menyerap logam berat.

VolcASH packed terdiri dari beberapa bagian antara lain cartridge kosong dan housing filter. Cartridge kosong digunakan untuk menyimpan abu vulkanik yang telah diaktivasi bentuknya lebih kecil daripada housing filter. Sementara limbah cair yang masuk ditampung dalam housing filter. Lalu abu vulkanik melakukan proses absorsi dan menyerap logam berat pada limbah. Keluarannya berupa air yang tidak mencemari lingkungan.

Alat ini dapat membersihkan 86 liter limbah cair. Baik yang berasal dari industri dengan pewarna sintetis maupun penyepuhan logam. Proses absorsi atau penyerapan limbah dilakukan secara sempurna selama kurang lebih 17 jam. Pada proses tersebut logam berat menempel dan hasilnya berupa air yang tidak mencemari lingkungan dan aman dibuang.

Teknologi ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL). Alat ini bahkan bisa meng-cover pengolahan limbah cair dari industri rumah tangga yang jumlahnya tidak sebanyak industri besar.

Bagi Luca, temuan itu bukan kali pertama bagi dirinya. Sebelumnya, ia meneliti golongan senyawa aktif dari ekstrak hydrocotyle sipthorpioides. Luca mengaku ia memang menyenangi dunia ilmiah. Kegemarannya itu tak dipengaruhi latar belakang kedua orangtuanya. 

"Ayah saya buruh di Cengkareng sedangkan ibu saya hanya ibu rumah tangga biasa," ungkap Luca yang selalu mendapatkan nilai 9 pada mata pelajaran matematika dan fisika di SMAN 1 Solo. Tak mudah untuk menjadi seorang peneliti. Menurutnya, penelitian perlu perjuangan keras dan tekad sekuat baja.

"Saya pernah pulang sampai jam 10 malam di laboratorium kimia karena proses penelitiannya tidak boleh ditinggal," kata pria kelahiran Madiun itu.


(ABE)