Ipsos Consulting: Cetak 3D, Peluang Industri Kreatif dan Konstruksi di Indonesia

Mohammad Mamduh    •    Rabu, 03 Jun 2015 23:16 WIB
teknologi
Ipsos Consulting: Cetak 3D, Peluang Industri Kreatif dan Konstruksi di Indonesia
Ilustrasi: Huffington Post

Metrotvnews.com: Bagi generasi milenia di seluruh dunia, belanja online mungkin sudah nyaris menjadi hal lumrah. Lihat sesuatu yang Anda suka? Setelah beberapa kali klik, produksi canggih yang besar dan proses logistik akan memastikan barang yang dibeli akan sampai di rumah Anda. Bagaimana kalau prosesnya bisa lebih sederhana? Bagaimana kalau "mencetak'' pembelian yang dilakukan di rumah Anda sendiri?

"Tidak diragukan bahwa cetak 3D memiliki potensi untuk merevolusi berbagai industri dan pasar di Tiongkok," menurut Direktur Consulting di Ipsos Bisnis Consulting - Greater China, Wijaya Ng kepada Metrotvnews.com (3/6/2015). "Masalahnya adalah begitu banyak klaim yang aneh-aneh apa yang dapat dilakukan oleh teknologi ini. Ada yang benar-benar percaya bahwa organ tubuh manusia dapat dicetak di rumah Anda sendiri, sehingga banyak perusahaan tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang bagaimana mendapatkan manfaat dari teknologi ini."

Penelitian baru dari Ipsos Business Consulting mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan aktif di Tiongkok memiliki kesempatan untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang cukup besar di pasar cetak 3D. Caranya adalah dengan menghilangkan gosip yang tidak perlu tentang teknologi ini dan menjembatani kesenjangan pengetahuan antara produsen peralatan dan konsumen.

Wijaya Ng mengatakan bahwa strategi yang paling sederhana untuk membangun industri cetak 3D di Tiongkok adalah dengan mengkomunikasikan secara jelas aplikasi praktis dari teknologi ini kepada pengguna akhir. 
Sentimen ini juga sampai ke Indonesia. Kebanyakan orang di Indonesia belum memiliki pengetahuan tentang aplikasi praktis cetak 3D ataupun keterampilan yang diperlukan untuk mengoperasikan teknologi ini. Hanya segelintir yang melihat kebutuhan akan kemampuan cetak 3D untuk pembuatan prototipe dan pembuatan komponen-komponen rumit.

"Biaya yang relatif tinggi dan kompleksitas pengoperasian mesin cetak 3D membuat teknologi ini saat ini sulit dijangkau oleh para pengguna mainstream di sini". ujar Konsultan di Ipsos BC Indonesia, Juanri. Akibatnya, permintaan akan cetak 3D di Indonesia tersegmentasi ke ceruk pasar di industri kreatif, seperti penggemar berat mainan yang ingin membuat mainan plastik sendiri.

Aplikasi cetak 3D dinilai memiliki potensi yang luar biasa untuk Indonesia dalam waktu dekat. Industri medis dan manufaktur berteknologi tinggi keduanya memerlukan sejumlah besar tenaga kerja berpendidikan tinggi dan spesialis, dua faktor penting ini yang Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara seperti Tiongkok dan Amerika Serikat.


(ABE)