Asuransi ABK Tewas di Senegal Dalam Proses Pencairan

Bambang Mujiono    •    Minggu, 07 Jun 2015 15:23 WIB
tki
Asuransi ABK Tewas di Senegal Dalam Proses Pencairan
Foto: Staf Kemenlu Sukarna saat menyerahkan jenazah Rasjo Lamtoro ke pihak keluarga di rumah duka/Metro TV_Bambang Mujiono

Metrotvnews.com, Tegal: Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri memastikan perusahaan yang memberangkatkan lima anak buah kapal (ABK) yang tewas di Senegal, bertanggung jawab memberikan asuransi jiwa. Hal ini disampaikan Staf Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu, Sukarna usai menyerahkan jenazah ABK asal Tegal, Jawa Tengah, Rasjo Lamtoro ke rumah duka.

Perusahaan yang memberangkatkan kelima ABK Chi Hsiang Fishery Co, itu yakni PT Anugerah Bahari Pacific dan PT Sumber Putera Abadi. Perusahaan itu harus memberikan hak kelima ABK tewas yang diduga menjadi korban perbudakan kapal berbendera Taiwan tersebut.

"Saat ini, PT yang memberangkatkan sedang mengurus asuransi korban. Kami yakin akan selesai karena PT tersebut bertanggung jawab dan pengurusan uang asuransi tersebut sedang dalam proses," kata Sukarna di rumah duka Rasjo Lamtoro di Desa Kalisapu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (7/6/2015).

Sukarna mengaku dana santunan dari pemerintah melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) sudah diberikan ke pihak keluarga. Demikian pula uang santunan dari perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI).

"Sampai saat ini kami masih terus melakukan komunikasi dengan pemerintah (Taiwan) dan perusahaan pemilik kapal beserta agen PT penyalurnya, terkait santunan atau pun asuransi. Pihak PT pun kami lihat kooperatif untuk mengurus asuransi ABK tersebut," ujarnya.

Lima anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia meninggal di Senegal, 27 April 2015. Kelima ABK itu diduga menjadi korban perbudakan di kapal berbendara Taiwan, Chi Hsiang Fishery Co. Kelima abk yang meninggal itu adalah Raka Bayu Anggara (Yogyakarta), Rasjo Lamtoro (Tegal), Ruhijatna Noviansyah (Subang), Sardi (Brebes), dan Heri Edmon Lusikooy (Surabaya).


(TTD)