Dahlan: Saya akan Ganti Seluruh Pengeluaran Pengadaan Mobil Listrik

Yogi Bayu Aji    •    Senin, 15 Jun 2015 20:14 WIB
dahlan iskan
Dahlan: Saya akan Ganti Seluruh Pengeluaran Pengadaan Mobil Listrik
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan (kanan) mengamati mobil listrik yang dikembangkan PT PLN di Pameran Inovasi BUMN, Jakarta, Kamis (27/6). (FOTO: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyatakan siap menggantikan biaya pengadaan mobil listrik. Hal ini terkait dengan penetapan tersangka terhadap bekas anak buahnya dalam kasus dugaan penyimpangan penggadaan 16 unit mobil listrik di tiga BUMN.

"Saya bersedia mengganti seluruh pengeluaran sponsorship maupun CSR (Corporate Social Responsibility) untuk pengadaan mobil listrik kalau memang proyek tersebut tidak diperbolehkan menggunakan dana sponsorship atau CSR," kata Dahlan dalam keterangan persnya, Senin (15/6/2015).

Dalam kasus ini, Jaksa Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung menetapkan dua tersangka baru, yakni Dasep Ahmadi (DA) dan Agus Suherman (AS). DA adalah Direktur Utama PT Sarimas Ahmadi Pratama yang mengadakan mobil listrik.

Adapun AS adalah mantan pejabat di Kementerian BUMN yang diduga memerintahkan tiga BUMN membiayai pengadaan mobil listrik sekaligus menunjuk perusahaan DA mengerjakan proyek. Dahlan pun sedih lantaran mantan anak buahnya harus tersandung kasus tersebut.

"Saya merasa sedih karena mantan anak buah saya di Kementerian BUMN dijadikan tersangka karena mengkordinasikan CSR/sponsorship untuk pembuatan mobil listrik," ujar Dahlan.

Mobil listrik tersebut, kata Dahlan, dibuat untuk dipersembahkan sebagai program green energy pada KTT APEC di Bali. Dahlan menjelaskan, BUMN diminta mendukung suksesnya KTT APEC.

"Bahwa yang dipercaya mengerjakannya adalah Ir Dasep Ahmadi MSc memang saat itu baru lulusan ITB tersebut yang sudah membuktikan secara nyata mampu membuat mobil listrik," jelas dia.

Kendati demikian, Dahlan belum tahu berapa dana untuk pengembangan mobil listrik tersebut. Namun, dia siap mengganti semua dana tersebut.

"Tapi kalau uang saya tidak mencukupi, saya yakin bisa minta tolong teman-teman saya yang peduli dengan kemajuan anak bangsa untuk membeli mobil tersebut. Saya sedih masalah ini jadi perkara pidana. Saya berharap teman-teman tidak patah semangat," ujar dia.

Dahlan menerangkan, selama ini BUMN mengalokasikan dana yang besar untuk pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, olahraga dan sebagainya. Dia berhadap, dana ini tak dipermasalahkan. "Saya juga tidak tahu apakah yang seperti itu juga tidak boleh," pungkas dia.

Kasus ini bermula saat Dahlan menjabat sebagai Menteri BUMN pada 2013. Dia memerintahkan PT BRI, PT Perusahaan Gas Negara dan PT Pertamina untuk menjadi sponsor pengadaan mobil listrik untuk mendukung KTT APEC di Bali.

Namun, keenambelas mobil listrik berjenis electric microbus dan electric executive bus itu rupanya tak dapat digunakan. Mobil itu pun dihibahkan ke  Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Bandung, Universitas Riau, Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada.

Sementara, hari ini Kejaksaan Agung sudah menetapkan dua tersangka dalam kasus tersebut, yakni, DA dan AS. Kedua tersangka dikenakan Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 


(OGI)