Guru Besar ITS Ciptakan Mobil 650 CC buat Petani

- 18 Maret 2013 10:14 wib
Prof I Nyoman Sutantra--MI/Abdus/bb
Prof I Nyoman Sutantra--MI/Abdus/bb

Metrotvnews.com, Surabaya: Guru besar otomotif Institut Tehnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, I Nyoman Sutantra berupaya untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat pedesaan dengan menciptakan kendaraan serba guna bagi masyarakat pedesaan.

“Kendaraan berupa mobil serba guna dapat digunakan untuk menunjang produktivitas pertanian dan bisa digunakan untuk kegiatan yang lain, seperti berjualan maupun bepergian. Kendaraannya tidak besar, mesinnya berukuran 650 CC, tapi 75% komponennya murni kami yang buat,” terang Sutantra, Sabtu (16/3).

Menurut guru besar ITS Surabaya yang pada 1978-1984 mengambil gelar master dan PhD di Wisconsin University Amerika Serikat tersebut, kendaraan yang dibuatnya diyakini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan. Selain fungsinya yang serbaguna, bahan bakarnya juga istimewa sebab menggunakan campuran Premium dan etanol.

Karena menggunakan bahan bakar campuran Premium sebesar 85% dan etanol 15%, kapasitas mesinnya kecil dengan kekuatan 24 PK (tenaga kuda), tenaga mobil tersebut dapat naik 20% dengan kekuatan hingga 30 PK.

“Bahan bakar campuran ini yang saat ini sedang diteliti dan untuk campuran etanolnya itu kami usahakan dapat terus ditingkatkan. Karena etanol ini bisa jadi lahan pekerjaan baru dari masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan hasil pertanian di desa,” ujar Sutantra.

Untuk sementara, masyarakat di pedesaan memang harus membeli lebih dahulu etanol tersebut. Namun selanjutnya, pihak akademisi di ITS Surabaya, akan memberikan pelatihan kepada masyarakat agar dapat membuat etanol sendiri. Sehingga, kemandirian warga pedesaan, sedikit demi sedikit akan semakin kuat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Bahkan dengan melatih masyarakat pedesaan membuat etanol tersebut, warga dapat menjualnya ke pasaran umum. Karena secara ekonomis, harga etanol di pasaran saat ini mencapai Rp18.000 setiap liternya dan menjanjikan keuntungan yang besar.

“Etanol bisa dibuat sendiri oleh masyarakat, misalnya dengan memanfaatkan tanaman singkong yang biasa ditanam di areal persawahan, pekarangan, maupun sebagai tanaman sela di lahan-lahan produktif. Etanol yang dihasilkan bisa digunakan untuk mobil yang dimiliki dan jika ada sisa bisa dijual,” urai bapak dari 3 orang anak itu.

Selain itu dengan menggunakan bahan campuran Premium dan etanol, emisi gas buangan yang dihasilkan oleh kendaraan serba guna tersebut juga sangat ramah lingkungan. Suasana segar di pedesaan tidak terusak dengan polusi asap yang berlebihan.

Selain bahan bakar campuran Premium dan etanol hasil produksi sendiri, Sutantra menjelaskan sekitar 75% komponen mobil itu berasal dari dalam negeri. Bahkan komponen-komponen tersebut bisa diproduksi oleh usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di bidang logam.

Sutantra mengakui, bagian paling sulit dan pembuatan mobil pedesaan tersebut adalah bagian mesinnya. Untuk sistem capacitive discharge ignition (CDI), alat yang mengatur pengapian pada kendaraan ini sudah bisa dibuat sendiri olehnya.

“Yang belum bisa kami buat sendiri adalah injektor, alat penyemprot bahan bakar. Material logam yang digunakan untuk pembuatan injektor masih susah dan di dalamnya terkandung komposisi logam tertentu. Makanya itu untuk injector dan sejumlah onderdil lain yang tidak terlalu banyak terpaksa masih impor,” terang Sutantra. (Abdus Syukur)

()

MOTOR
MODIFIKASI
TIPS

Rerun Demokrasi Galau (Promo)

19 September 2014 23:31 wib

Keberhasilan Indonesia menggelar Pilkada secara langsung telah melahirkan sejumlah pemimpin yang berhasil membuat gebrakan. Rakyat pun merasa tak rugi telah memberikan suara dan memilih sosok yang dapat membuat perubahan berarti. Namun langkah Demokrasi yang terus diperbaiki, kini tersendat oleh pembahasan RUU Pilkada yang mengusulkan pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD. Anggota fraksi dari koalisi merah putih di DPR yang sebelumnya tak mendukung RUU tersebut, pascapilpres kini berubah haluan. Dengan sejumlah alasan mereka mendukung Pilkada melalui DPRD. Sejumlah Kepala Daerah pun bereaksi menentang RUU Pilkada. Bagi mereka suara yang langsung diberikan rakyat kepada mereka, merupakan mandat yang sesungguhnya. Sementara pemilihan langsung oleh DPRD hanya akan mengikat mereka untuk memberikan pelayanan lebih kepada partai politik dan politikus DPRD. Kondisi Demokrasi Galau negeri ini menjadi pembahasan Mata Najwa, dengan menghadirkan sejumlah narasumber. Saksikan selengkapnya hanya di Mata Najwa, tayang ulang, Sabtu 20 September 2014 jam 20:30 WIB di Metro TV.