Rendeman Tebu Seharusnya 12%

Ade Hapsari Lestarini    •    Selasa, 30 Jun 2015 17:44 WIB
gula
Rendeman Tebu Seharusnya 12%
Ilustrasi -- FOTO: ANTARA/ERIC IRENG

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Andi Akmal Pasluddin menyayangkan turunnya rendeman tebu di wilayah Jawa, yang saat ini rata-rata hanya mencapai lima persen.

Padahal, rendeman tebu semestinya dapat mencapai 12 persen. Menurutnya, kondisi ini secara nasional dapat menurunkan produksi gula. Selain itu, juga dapat mempengaruhi sikap Pemerintah yang akan mengambil kebijakan import dalam tiga bulan ke depan.

"Kualitas mesin, kecepatan proses giling, dan tidak ada manipulasi data akan mampu menghasilkan rendeman tebu hingga 12 persen. Artinya, setiap 100 ton tebu, akan menghasilkan 12 ton gula. Ini pemerintah tinggal ada kemauan atau tidak," kata Andi Akmal, dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (30/6/2015).

Politisi PKS asal Sulawesi Selatan ini menjelaskan titik terjatuh dalam sejarah rendeman tebu pada 10 tahun terakhir hanya mencapai lima persen. Dia mengungkapkan, rata-rata rendeman tebu sekitar delapan persen dan paling rendah yang terjadi pada tahun lalu yang mencapai tujuh persen.

"Namun yang juga disesalkan adalah, maksimal rendeman tebu di pulau Jawa hanya mencapai sembilan persen," ujarnya.

Oleh karena itu, dia mengatakan jika saat inilah waktunya melakukan revitalisasi pabrik gula. Karena yang akan merasakan kerugian langsung akibat rendahnya rendeman adalah petani tebu. Pertama terkait harga pokok penjualan (HPP) gula yang rendah yakni hanya naik Rp400 dari Rp8.500 menjadi Rp8.900. Padahal, tambahnya, petani tebu menginginkan kenaikan HPP gula bisa mencapai Rp11.750.

"Kedua masalah rendeman yang sangat rendah. Dua hal ini yang menjadi hidup tidaknya aktivitas petani dalam menanam tebu," jelas Andi Akmal.

Dia pun berharap pemerintah menjadikan semua pabrik gula di Indonesia seperti pabrik gula Gunung Madu di lampung. Dengan lahan berupa hamparan luas sehingga dalam menyiram herbisida dilakukan dengan menggunakan pesawat.

"Pangkalan udara pertanian sudah punya di daerah Subang," imbuhnya.

Dia mengemukakan, pihaknya tidak ingin Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PT Perkebunan Nusantara (PTPN) gula melakukan manipulasi data demi dividen.

"Semoga bukan itu. Namun meningkatkan efisiensi produksi gula dengan memperbaruhi mesin giling di pabrik gula dan perbaikan manajemen waktu giling harus ditingkatkan sehingga dapat mencapai rendeman gula 12 persen," pungkasnya.


(AHL)