Pemegang Saham Unitex Beri Lampu Hijau Delisting dari BEI

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 02 Jul 2015 17:53 WIB
unitex
Pemegang Saham Unitex Beri Lampu Hijau Delisting dari BEI
Ilustrasi Gedung BEI -- MI/PANCA SYURKANI

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemegang saham PT Unitex Tbk (UNTX) menyetujui rencana perseroan untuk menghapus pencatatan (delisting) saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi perusahaan tertutup (go private).

Presiden Direktur Unitex Naohiko Ashida mengatakan pemegang saham menyetujui perseroan untuk delisting dan menjadi go private. Rencana itu disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang telah dijalankan oleh perseroan pada Selasa, 30 Juni 2015.

RUPSLB telah dihadiri oleh pemegang saham independen atau kuasanya yang sah, di mana mewakili sejumlah 1.369.555 saham, atau setara 89,64 persen dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah yang dimiliki oleh pemegang saham independen perseroan. Pemegang saham atau kuasanya yang sah mewakili sejumlah 6.510.976 saham atau setara dengan 80,70 persen dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah yang telah dikeluarkan oleh perseroan.

"Rencana delisting dari bursa, pemegang saham yang setuju sebanyak 6.510.976 saham, atau setara 80,70 persen. Sedangkan yang menyetujui perubahan status perseroan dari terbuka menjadi perusahaan tertutup dan menyetujui atas harga penawaran tender/pembelian saham yaitu Rp5.305 per saham," ujar dia, mengutip laporannya di keterbukaan informasi BEI, Kamis (2/7/2015).

Seperti diberitakan sebelumnya, PT Unitex Tbk (UNTX) memberikan penawaran menarik bagi pemegang saham pada saat proses delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemegang saham berhak melakukan penawaran tender atau menjual sahamnya hingga posisi Rp5.305 per saham.

Sekretaris Perusahaan Unitex Sugi Hadi Prawiro membeberkan ada empat hak menarik yang akan diperoleh pemegang saham. Harga pembelian saham 43,4 persen lebih tinggi dari pada harga pasar tertinggi saham di BEI dalam jangka waktu 90 hari terakhir sebelum pengumuman rencana perubahan status pada 10 April 2015 yang mencapai Rp3.700 per saham.

Menurut dia, harga pembelian 0,02 persen lebih tinggi dari pada hasil penilaian nilai pasar wajar perseroan dengan kepemilikan mayoritas yang disiapkan oleh penilai independen sebesar Rp5.304 per saham.

"Harga pembelian 45 persen lebih tinggi dari nilai pasar wajar saham perseroan dengan kepemilikan minoritas sebesar Rp3.660 per saham," kata dia.

Sugi menambahkan, harga pembelian saham tersebut tercatat 430,5 persen lebih tinggi dari pada nilai nominal harga saham sebesar Rp1.000 per saham.

Adapun harga pembelian 37,2 persen lebih tinggi dari harga perdagangan tertinggi saham perseroan di BEI selama dua tahun terakhir sebelum tanggal iklan pemberitahuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di surat kabar pada 10 April 2015 yaitu setelah memperhitungkan faktor penyesuaian akibat perubahan nilai nominal sejak dua tahun terakhir hingga RUPSLB yang menyetujui rencana delisting.

"Ditambah premi berupa tingkat pengembalian investasi selama dua tahun yang diperhitungkan berdasarkan harga perdana saham dikali rata-rata tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tiga bulan atau tingkat bunga obligasi pemerintah lain yang setara berlaku pada saat ditetapkannya putusan RUPSLB mengenai rencana delisting sebesar Rp3.866 per saham," sebut dia.

Pada saat ini, saham Unitex yang ada sebanyak 69,37 persen atau setara 5.597.276 saham dimiliki oleh Unitika Ltd, sebesar 9,40 persen atau setara 757.439 saham dimiliki oleh Henry Onggo, sebesar 8,61 persen atau setara 694.480 dimiliki Henry Lohanata dan sisanya 12,62 persen atau setara 1.018.305 dimiliki oleh publik.

Adapun tanggal penyampaian surat permintaan pedoman go private kepada OJK pada 4 Februari 2015, penyampaian permohonan suspensi perdagangan kepada BEI 4 Februari 2015, pelaksanaan suspensi perdagangan pada 5 Februari 2015.

OJK mengeluarkan pedoman go private pada 26 Februari 2015, perubahan anggaran dasar dan penyampaian kepada OJK pada 6 November 2015, permohonan crossing dan delisting kepada BEI pada 9 November 2015, persetujuan perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum dan HAM kepada OJK dan BEI pada 7 Desember 2015 dan persetujuan delisting dari BEI dan pengumuman delisting di BEI pada 7 Desember 2015.
(AHL)