RI Petik Pelajaran dari 'Utang Sampah' Negeri Dewa

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 03 Jul 2015 07:48 WIB
ekonomi yunani
RI Petik Pelajaran dari 'Utang Sampah' Negeri Dewa
Ilustrasi. ANTARAFOTO

Metrotvnews.com, Jakarta: Yunani resmi menjadi negara maju pertama yang gagal bayar (default) utangnya sebesar 1,5 miliar euro (USD1,7 miliar) pada Dana Moneter Internasional (IMF). Lantas apa yang bisa dipetik Indonesia dari gonjang-ganjing utang negeri para dewa itu?

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menilai pelajaran berharga yang bisa diambil dari krisis Yunani yakni mengenai pentingnya menjaga stabilitas keuangan negara (fiscal sustainability).

Dalam bincang-bincang bersama media di Kantor Ditjen Pajak, Jakarta Selatan, Kamis, 2 Juli 2015, Bambang menjelaskan kesalahan Yunani dalam mengatur manajemen keuangan negara sangatlah buruk. Terbukti dari penetapan defisit anggaran yang tinggi yakni mencapai delapan persen dari produk domestik brutonya (PDB) atau gross domestic product (GDP).

"Kalau defisitnya segitu besar, untuk menutupnya pakai utang. Akibatnya rasio utang terhadap GDP sekitar 60-70 persen bahkan lebih dari itu. Kita hanya 25 persen," kata Bambang.

Dirinya mengatakan, banyak negara di Eropa termasuk Yunani yang tidak terlalu concern terhadap penerimaan pajak, serta terlalu mengandalkan utang karena begitu mudah untuk dapat pembiayaan melalui pinjaman utang. Mereka tidak terbiasa untuk menarik pajak sehingga ketika obligasi yang diterbitkan sudah tidak prospektif lagi, maka tamatlah negara tersebut.

"Saat rating obligasinya turun, akhirnya (junk bond) utangnya menjadi sampah, maka selesailah. Itulah yang terjadi kasus yunani. Jadi, fiscal sustainability yang paling penting," jelas Bambang.

Sebelumnya, juru bicara IMF menegaskan pihaknya belum juga menerima pembayaran utang Yunani yang telah jatuh tempo. IMF melaporkan pada dewan eksekutif, Yunani sekarang merupakan penunggak dan hanya dapat menerima pembiayaan IMF setelah tunggakannya dihapus.


(AHL)