Insiden Tolikara, Fungsi Intelijen di Papua Harus Diperkokoh

Misbahol Munir    •    Minggu, 19 Jul 2015 16:49 WIB
penyerangan
Insiden Tolikara, Fungsi Intelijen di Papua Harus Diperkokoh
Politikus PKS Ahmad Zainuddin--Foto: Istimewa

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepolisian Papua seharusnya bisa mengendus potensi kerusuhan di Tolikara, Papua. Demikian dikatakan anggota tim pengawas intelijen dari Komisi I DPR, Ahmad Zainuddin.

Apalagi kata dia, ada surat edaran bernada provokatif soal pelarangan peringatan Idul Fitri tembusan ke kepolisian.

"Jika benar surat itu, seharusnya aparat dan intelijen sudah mengantisipasi. Kejadian ini sebaiknya menjadi bahan dasar buat fungsi intelijen, khususnya Kepala BIN baru untuk merancang sistem intelijen yang lebih kokoh," jelas Zainuddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/7/2015).

Zainuddin menjelaskan, fungsi intelijen dari lembaga kepolisian, TNI dan BIN harus berjalan secara koordinatif di Papua.

Pelaksanaan fungsi intelijen di wilayah yang rentan dengan separatisme harus mendapat perhatian serius dari pemerintah. Sebab kekerasan sekecil apapun yang terjadi di Papua selalu diblow up oleh pihak-pihak tertentu sehingga menjadi sorotan internasional.

"Jangan sampai peristiwa serupa terulang lagi di wilayah NKRI ini, khususnya di Papua. Karena banyak pihak asing yang berkepentingan terhadap separatisme dan sumber daya alam di Papua," kata politikus PKS ini.

Dia juga menegaskan, berdasarkan UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme, aksi pembakaran pemukiman dan tempat ibadah saat hari raya besar agama oleh kelompok tertentu merupakan tindakan teror. Karena menciptakan suasana ketakutan massal hingga merusak harmonisasi hubungan antar umat beragama.

Zainuddin mendorong agar insiden Tolikara itu diusut tuntas. Para pelaku dan pihak-pihak yang memprovokasi harus ditindak sesuai hukum yang berlaku. Dia berharap para tokoh agama dan masyarakat di Papua mempererat kembali toleransi antarumat beragama.

"Dari kasus tersebut harus segera ditemukan solusi yang adil dan menenteramkan semua pihak, terutama kelompok minoritas," imbuhnya.

Sebelumnya, kerusuhan terjadi di Tolikara, Papua, pada Jumat 17 Juli. Akibatnya, satu orang tewas dan sebelas lainnya terluka. Kerusuhan diduga dipicu adanya sentimen agama.


(MBM)