NU dan Muhammadiyah Diminta Meredam Konflik Akibat Tragedi Tolikara

Amaluddin    •    Rabu, 22 Jul 2015 11:52 WIB
penyerangan
NU dan Muhammadiyah Diminta Meredam Konflik Akibat Tragedi Tolikara
Sejumlah aktivis gereja membawa poster informasi mengenai layanan gratis bagi pemudik di Jalan Sultan Agung, Semarang, Jateng, Selasa (14/7). Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

Metrotvnews.com, Surabaya: Tragedi Tolikara, Papua, terus menjadi perbincangan bahkan kecaman warga muslim se-Nusantara. Para tokoh dan ulama muslim di Jawa Timur pun terus berupaya memberikan arahan untuk meredam amarah umat muslim yang tersulut.

"Saya sudah berulang kali mendapat telepon dari kelompok-kelompok kecil umat muslim untuk memberikan sikap soal pembakaran di Tolikara. Banyak yang bilang dan bertanya pada saya, apakah harus dibalas dengan membakar gereja? Saya jawab tidak. Jangan terpancing emosi," kata tokoh ulama Jatim, KH Raden Ali Badri, kepada wartawan, Rabu (22/7/2015).

Selain menggelar pertemuan dengan 65 ulama asal Jatim dalam kegiatan Mudzakaroh Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Jawa Timur, pihaknya juga berharap pada dua elemen besar, yakni Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) untuk segera bersikap.

"Hal ini ditujukan agar kelompok-kelompok kecil umat muslim tidak terpancing," katanya.

Ali Badri menyayangkan peran NU dan Muhamadiyah seperti macan ompong, termasuk juga MUI yang juga belum bersikap. "Padahal, sikap mereka akan dijadikan acuan bagi para umarohnya," tuturnya.


(UWA)