Total 3 Bandara Ditutup Akibat Erupsi Raung

Puput Mutiara    •    Rabu, 22 Jul 2015 15:35 WIB
gunung raung
Total 3 Bandara Ditutup Akibat Erupsi Raung
Calon penumpang menunggu informasi dari pihak bandara terkait pembatalan sejumlah penerbangan di Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (16/7/2015). Foto: Zabur Karuru/Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak tiga bandara ditutup akibat erupsi Gunung Raung, Jawa Timur, hari ini. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sebaran abu erupsi mengarah ke selatan dan tenggara.

Awalnya, Kementerian Perhubungan menerbitkan notice to airmen No C0602/15 untuk menutup Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, sejak pukul 10.50 WIB hingga pukul 16.00 WIB. 

Selanjutnya, pukul 10.53 WIB Notam No C0604/15, Bandara Notohadinegoro di Jember juga ditutup hingga pukul 16.00 WIB. Menyusul pada pukul 12.00 WIB, giliran Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali yang ditutup.

"Pembukaan kembali bandara disesuaikan hasil evaluasi berdasarkan kondisi sebaran abu vulkanik," ujarnya melalui rilis yang diterima Media Indonesia, Rabu (22/7/2015).

Data terakhir pengamatan gunung api dari PVMBG, hari itu terlihat asap kelabu tebal, tekanan sedang, tinggi 2.000 meter condong ke arah Selatan-Tenggara. Tremor vulkanik atau letusan menerus dengan amplituode dominan 27-29 mm.

Lebih lanjut, jelas Sutopo, energi cenderung meningkat lagi karena adanya pasokan magma baru. Namun tipe letusan tidak berubah, masih meletus terus-menerus tanpa jeda dengan tipe strobolian.

"Sementara, pantauan citra satelit Himawari-8 pada hari yang sama, tepatnya pukul 01.00 - 06.00 WIB menunjukkan sebaran abu vulkanik mengarah ke selatan. Bahkan mencapai ketinggian 20.000 kaki (6.500 meter) bergerak ke arah selatan sejauh 160 km dengan kecepatan 10 km per jam," jelas Sutopo.

Menurutnya, kondisi Gunung Raung yang terus menerus erupsi sejak 29-6-2015 itu ditaksir menimbulkan dampak kerugian ekonomi yang cukup besar, khususnya terkait penerbangan, pariwisata, dan bisnis.

Meski demikian, tak bisa diprediksi kapan erupsi akan berakhir. Mengingat, tipikal magma gunung raung lebih encer dan miskin gas sehingga tidak eksplosif dan tidak ada awan panas.


(KRI)